Di Hadapan Wisudawan Stikosa-AWS, La Nyalla Sebut Transformasi Kurikulum Harus Dilakukan

Ihya Ulumuddin ยท Minggu, 05 Desember 2021 - 18:01:00 WIB
Di Hadapan Wisudawan Stikosa-AWS, La Nyalla Sebut Transformasi Kurikulum Harus Dilakukan
Ketua DPD La Nyalla Mahmud Mattalitti di hadapan wisudawan Stikosa-AWS. (Foto: ist)

BANDUNG, iNews.id - Ketua DPD La Nyalla Mahmud Mattalitti mengatakan dunia pendidikan harus melakukan adaptasi di Era Disrupsi, termasuk transformasi kurikulum. Sebab, teknologi digitalisasi sudah tidak bisa dihindari. 

La Nyalla menilai persiapan menjadi sangat penting. Siapa yang tidak berubah akan ditinggal perubahan global.

"Hal itu harus diperhatikan dengan jeli oleh dunia pendidikan seperti Stikosa-AWS. Karena kita hanya punya dua pilihan, menjadi objek atau subjek," kata La Nyalla sambutan virtualnya dari Bandung dalam Wisuda Sarjana ke-25 Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa – Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) yang digelar virtual, Sabtu (4/12/2021) di Surabaya.

Menurutnya, Stikosa-AWS harus melakukan reposisi dan adaptasi cepat dalam memasuki era Dis-rupsi dan percepatan perkembangan teknologi informasi.

"Transformasi Kurikulum Stikosa-AWS wajib dilakukan dengan cepat. Karena semua proses dan output ilmu komunikasi, khususnya komunikasi massa telah berubah," ucapnya.

La Nyalla memberikan fakta dimana radio harus berubah sejak ada podcast. Televisi harus berubah setelah ada streaming dan youtube. Pola dunia periklanan juga berubah, setelah ada big data yang mampu mengolah algoritma hidup manusia.

"Pekerjaan manusia di industri media juga pasti akan digantikan oleh automasi. Seperti yang sudah terjadi di proses pra cetak dan cetak media massa printing. Sekarang tidak perlu lagi petugas pra cetak. Bahkan sejak dari meja layout seorang editor bisa langsung menyusun tulisan di template layout," papar Senator asal Jawa Timur itu.

Mengenai perubahan global dalam koridor dunia digital, La Nyalla menilai ada dua peluang sekaligus tantangan yang dihadapi.

"Pertama adalah percepatan pertumbuhan digitalisasi yang merambah semua sektor. Kondisi ini memaksa kita untuk memasuki digitalisasi ekonomi. Karena semakin pesatnya era automasi dan artificial intelijen, yang akan menggantikan beberapa peran manusia," ucap dia.

Kedua, bangsa Indonesia akan memasuki puncak demografi usia produktif pada tahun 2045. Dimana jumlah populasi penduduk usia produktif mencapai 70 persen dari total penduduk Indonesia pada saat itu. 

"Jika puncak demografi usia produktif tidak dikelola dan disiapkan dengan baik, konsekuensinya akan sangat berat. Akan muncul masalah sosial seperti kemiskinan, derajat kesehatan yang rendah, pengangguran dan tingkat kriminalitas. Karena jumlah usia produktif tinggi, sementara lapangan pekerjaan tidak ada," katanya.

Editor : Kastolani Marzuki

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: