BPIP Terus Menggali Nilai-Nilai Positif di Masyarakat, Ini Alasannya

Ihya Ulumuddin · Jumat, 06 November 2020 - 14:39:00 WIB
BPIP Terus Menggali Nilai-Nilai Positif di Masyarakat, Ini Alasannya
Seminar nasional bertajuk “Advokasi Positif: Menggali Nilai-Nilai Pancasila dari Bumi Bung Karno" di kantor Wali Kota Blitar, Jawa Timur, Jumat (6/11/2020).

BLITAR, iNews.id - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) memandang saat ini ada kegalauan tentang kesulitan mengaktualisasikan Pancasila dengan baik. Hal ini terjadi karena kurangnya keteladanan dalam masyarakat.

Pandangan ini disampaikan Wakil Kepala BPIP Hariyono saat membuka seminar nasional bertajuk “Advokasi Positif: Menggali Nilai-Nilai Pancasila dari Bumi Bung Karno" di kantor Wali Kota Blitar, Jawa Timur, Jumat (6/11/2020).

"Sementara masyarakat selalu mencari keteladanan," kata Hariyono. Menurut dia, sebenarnya di Indonesia ini banyak yang bisa dijadikan teladan. Namun, menjadi persoalan karena sekarang ini jika ada sesuatu yang baik di masyarakat, terkadang diabaikan begitu saja.

Sementara jika ada sesuatu yang buruk, akan menjadi fokus perhatian masyarakat. Karena itulah BPIP memiliki program elevasi yang mengangkat nilai-nilai positif di masyarakat. Tujuannya, supaya energi positif masyarakat bisa diangkat.

"Dalam psikologi, mengangkat sesuatu yang positif bisa memberikan energi positif. Karena dalam kehidupan sehari-hari, jika kita memancarkan energi positf maka hukum timbal baliknya positif juga," kata Hariyono.

Sebagai contoh, di Blitar ada seorang bernama Iwan Galau atau yang dikenal dengan nama Mujair pada 1937. Karena kesulitan hidup, dia melakukan tirakat di tepi Samudera Hindia. Dia lantas melihat ikan di laut yang sepertinya bisa dibudidayakan di air tawar.

Ikan itu pun dia bawa ke kampungnya dan dilakukan percobaan hidup di air tawar. Ternyata ikan itu mati. Tapi Iwan tak putus asa. Dia melakukan hingga 11 kali percobaan memformulasikan air tawar dan laut hingga akhirnya ikan itu bisa hidup di air tawar.

Ikan itu lantas berkembang hingga sekarang dikenal dengan nama ikan mujair. "Hal-hal seperti ini yang harus diangkat," kata Hariyono.

Editor : Zen Teguh