BMKG: Jatim, Jabar, Jateng, DIY, Banten dan Jakarta Siaga Banjir Bandang

Ihya Ulumuddin · Rabu, 17 Februari 2021 - 18:44:00 WIB
BMKG: Jatim, Jabar, Jateng, DIY, Banten dan Jakarta Siaga Banjir Bandang
Sungai Konto di Malang meluap hingga mengakibatkan banjir bandang. (Foto: Okezone/Avirista Midaada)

JAKARTA, iNews.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan sejumlah daerah di Indonesia yang berpotensi dilanda banjir dan banjir bandang akibat hujan lebat. Enam daerah berstatus siaga dan selebihnya waspada. 

Informasi resmi dari BMKG, enam daerah berstatus Siaga Banjir, yakni  Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur (Jatim).

Sementara daerah berstatus Waspada Banjir yakni, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah.

Kemudian, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Papua.

"Ini berlaku 18 Februari 2021 pukul 07.00 WIB sampai dengan 19 Februari 2021 pukul 07.00 WIB," kata BMKG dalam siaran persnya, Rabu (17/2/2021).

BMKG sebelumnya juga mengingatkan 24 daerah di Indonesia untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem selama sepekan ke depan. BMKG memprakirakan selama periode sepekan ke depan, curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat, petir dan angin kencang.

Menurut BMKG, saat ini sebagian besar wilayah Indonesia atau 96 persen dari 342 zona musim telah memasuki  musim hujan. Hal ini juga telah diprediksi sejak Oktober 2020 lalu, yakni puncak musim hujan akan terjadi pada Januari - Februari 2021 di sebagian Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa termasuk DKI Jakarta. Kemudian, sebagian Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat dan bagian selatan Papua. 

"Berdasarkan kondisi tersebut, maka kewaspadaan akan potensi cuaca ekstrem harus terus ditingkatkan," kata BMKG.

Analisis BMKG menunjukkan kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil dalam beberapa hari ke depan dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan oleh monsun Asia yang masih mendominasi wilayah Indonesia dan diperkuat oleh aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin di sebagian wilayah Indonesia. 

"Selain itu, adanya pusat tekanan rendah di wilayah utara Indonesia dan di Australia bagian utara dapat mempengaruhi pola arah dan kecepatan angin sehingga meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Indonesia," kata BMKG.

Editor : Maria Christina

Halaman : 1 2