Bintaos, Pemilik Makam Raksasa di Probolinggo Akhirnya Angkat Bicara
PROBOLINGGO, iNews.id – Nur Selamet alias Bintaos, si pembuat makam raksasa yang menjadi fenomenal di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur (Jatim), akhirnya angkat bicara. Dia mengaku tidak bermaksud untuk membuat Probolinggo tidak kondusif dengan membuat makam raksasa. Justru, itu sebagai peringatan bahwa semua manusia akan mati.
Bintaos membangun makam raksasa dan nisan menjulang tinggi untuk persiapan bagi dirinya sendiri jika suatu saat meninggal dunia. Makam itu memiliki panjang 10 meter dengan tinggi nisan 2 meter. Makam yang dibangun di area rumahnya, Desa Ganting, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, menjadi viral dan ramai didatangi masyarakat. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolonggo melakukan kajian karena banyak masyarakat mempertanyakannya.
“Tanggapan ada yang positif ada yang negatif. Saya enggak ada tujuan sama sekali untuk meresahkan Probolinggo, bahkan saya cinta Probolinggo untuk damai dan senang,” kata Bintaos saat ditemui di rumahnya, Kamis (12/7/2018).
Pria berusia 46 tahun itu justru mempertanyakan kembali dasar sejumlah pihak mempermasalahkan tindakannya membangun makam raksasa dan nisan tinggi itu. Sebab, dia membuatnya sebagai persiapan bagi diri sendiri dan di atas lahan miliknya.
Di area makam itu, telah tertera tanggal lahir Bintaos 9 Juni 1976 dan meninggal 4 Agustus 2085. Tanggal kematiannya itu hanya perkiraan saja. Bintaos membuatnya bukan berarti dia ingin mendahului takdir. Dia bahkan menilai keberadaan makam persiapan miliknya itu akan menjadi pengingat kalau semua manusia yang hidup di bumi akan mati.
“Hanya saja bentuknya besar atau raksasa. Soal makam yang berbentuk raksasa, itu selera saya. Ibarat layang-layang, ada yang suka besar dan ada yang suka kecil,” kata Bintaos.
Menurut Bintaos, dia juga ingin meluruskan permasalahan pembangunan makam raksasa dan nisan tinggi, yang dinilai masyarakat tidak lazim. Baginya, mereka yang mempermasalahkan pembangunan makamnya hanya segelintir orang yang berpikiran kolot. Jika ada pihak-pihak yang tidak suka dan ingin merombak makamnya, dia pun mempersilakan.
“Wong itu cuma semen, banyak orang mengatakan saya bukan Islam, saya syirik. Lho istri saya haji, saya punya musala mewah, anak saya mengaji. Logikanya apa? Saya rasa itu hanya segelintir orang yang pikirannya kolot, kurang luas terhadap pandangan-pandangan seni saya,” paparnya.
Editor: Maria Christina