5 Upacara Adat Jawa Timur, Cocok Jadi Destinasi Wisata Budaya

Inas Rifqia Lainufar ยท Rabu, 17 Agustus 2022 - 22:13:00 WIB
5 Upacara Adat Jawa Timur, Cocok Jadi Destinasi Wisata Budaya
Upacara adat Jawa Timur. Keduk Beji (Foto: Kemendikbud)

JAKARTA, iNews.id - Deretan upacara adat Jawa Timur berikut masih tetap dilestarikan hingga saat ini. Beberapa dari upacara adat ini bahkan telah dikelola oleh pemerintah setempat sebagai salah satu tujuan wisata budaya bagi turis lokal maupun mancanegara.

Namun pada hakikatnya, upacara adat tersebut memiliki nilai filosofis yang amat luhur bagi masyarakat setempat. Pasalnya, sebagian dari upacara adat ini diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur terhadap alam semesta.

Adapun daftar upacara adat Jawa Timur yang patut untuk diketahui adalah sebagai berikut.

Upacara adat Jawa Timur

1.Keduk Beji

Upacara adat ini dilakukan dengan membersihkan sendang (kolam) Beji di Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi dari sampah dan dedaunan. Keduk Beji menjadi upacara adat tahunan yang rutin dilakukan pada hari Selasa Kliwon menjelang Bulan Suro (Muharram).

Sebelum pembersihan sendang dilakukan, terdapat tarian dengan iringan tabuhan gendang yang akan ditampilkan. Upacara adat ini akan disertai dengan kegiatan saling memukul menggunakan ranting dan diakhiri dengan selamatan atau makan bersama.

Tak hanya itu, terdapat pula sesi penyelaman ke pusat sumber air untuk mengganti air kendi dalam goa agar tetap bersih. Namun perlu diketahui bahwa Keduk Beji hanya boleh dilakukan oleh para lelaki. 

Pembersihan Sendang Beji tetap dilaksanakan karena masyarakat setempat menganggapnya sebagai tempat yang sakral. Airnya juga dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian di desa tersebut.

2.Yadnya Kasada

Yadnya Kasada merupakan upacara adat yang dilakukan oleh suku Tengger yang mendiami sekitar gunung Bromo. Upacara ini diselenggarakan dengan membuat tumpeng dan membawa hasil bumi lainnya ke puncak gunung Bromo.

Nama Kasada sendiri diambil dari bulan Kasada hari ke-14 menurut penanggalan Jawa yang menjadi waktu berlangsungnya upacara adat tersebut. Tujuan dilaksanakannya Yadnya Kasada adalah sebagai sarana mengucap rasa syukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang diterima.

Karena keunikannya tersebut, Yadnya Kasada biasanya menjadi tujuan wisata bagi para turis lokal maupun mancanegara. Tak heran apabila penyelenggaraan upacara adat ini juga dibantu oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

3.Larung Sembonyo

Masyarakat Trenggalek kerap merayakan Larung Sembonyo hingga saat ini. Upacara adat ini diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur terhadap hasil laut yang disediakan oleh alam.

Pada upacara adat tersebut, masyarakat Trenggalek akan menghanyutkan sesaji di pantai Prigi. Maka dari itu, Larung Sembonyo juga dikenal dengan sebutan ‘Sedekah Laut’.

Selain sesaji, masyarakat Trenggalek juga akan membuat tiruan boneka dari tepung beras ketan yang dibentuk menyerupai sepasang pengantin (sembonyo) dan dihanyutkan. Upacara ini masih rutin dilaksanakan setiap hari Senin Kliwon.

4.Kebo-keboan

Upacara adat ini masih dilestarikan oleh suku Osing di Banyuwangi hingga saat ini. Kebo-keboan dilakukan antara tanggal 1 sampai 10 Suro (Muharram) setiap tahunnya.

Tujuan pelaksanaannya adalah sebagai ungkapan rasa syukur terhadap hasil panen yang diperoleh. Selain itu, Kebo-keboan juga menjadi ajang untuk melakukan permohonan agar lahan pertanian menjadi subur dan tidak diserang oleh hama. 

Dalam upacara adat tersebut, masyarakat suku Osing akan berdandan menyerupai kerbau dan bertindak seperti sedang membajak sawah. Orang-orang tersebut juga akan diarak mengelilingi desa setempat.

Editor : Komaruddin Bagja

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: