Ayah Serda Ahmad Muzammil, Toni Eko Prasetyo menuntut keadilan atas kematian anaknya yang diduga dianiaya empat senior di mes Mabes TNI AU. (Foto: iNews TV/Asfi Manar)

MAGETAN, iNews.id - Keluarga Prajurit TNI Angkatan Udara (AU) Serda Ahmad Muzammil Farisa (22) awalnya mendapat kabar anak mereka meninggal akibat kecelakaan. Namun, informasi itu belakangan berubah setelah keluarga mendapat kabar lain yang menyebut prajurit muda tersebut tewas akibat dianiaya empat seniornya di mes Mabes TNI AU.

Ayah korban, Toni Eko Prasetyo, mengatakan informasi mengenai dugaan penganiayaan tersebut membuat keluarga meminta keadilan atas kematian anaknya.

Toni mengaku pertama kali mendapat kabar kematian anak pertamanya dari tiga bersaudara itu pada Kamis (10/9/2026) pagi. Saat itu, keluarga menerima informasi Serda Ahmad meninggal karena kecelakaan.

Belakangan, Toni memperoleh informasi berbeda mengenai kejadian yang dialami putranya. Berdasarkan informasi yang diterimanya, terjadi dugaan penganiayaan di mes sekitar pukul 23.00 WIB pada Rabu (9/9/2026). Kemudian berlanjut sekitar pukul 01.00 WIB oleh para senior anaknya.

"Saya terima informasi kejadiannya di mes jam 11 malam. Sempat berhenti lanjut jam 1 dini hari, penganiayaan oleh empat orang," ujarnya, Sabtu (12/9/2026).

Toni juga mengungkap kondisi tubuh Ahmad setelah meninggal. Dia menyebut terdapat luka seperti benturan pada bagian dagu serta lebam di dada yang menurutnya menyerupai bekas pukulan.

"Lukanya di dagu ada benturan kemudian lebam di dada seperti bekas pukulan," katanya.

Serda Ahmad Muzammil merupakan prajurit TNI AU yang baru sekitar 1,5 tahun bertugas sebagai bintara psikologi di Mabes TNI AU. Jenazahnya sempat menjalani autopsi di Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta.

Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian, tetapi hingga kini keluarga mengaku belum menerima laporan resmi hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium.

Keluarga pun terus memperjuangkan keadilan. Jika dugaan penganiayaan tersebut terbukti, keluarga berharap pihak yang bertanggung jawab diproses dan mendapat hukuman setimpal, termasuk kemungkinan diberhentikan dari TNI.

Menurut Toni, dugaan penganiayaan senior itu juga diperkuat informasi dari rekan seangkatan Ahmad serta foto yang memperlihatkan luka pada bagian dagu dan dada. Meski demikian, penyebab pasti kematian korban masih menunggu hasil pemeriksaan resmi.

Sang ayah meminta Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), dan Panglima TNI mengevaluasi kejadian tersebut. Dia menilai dugaan peristiwa itu menjadi perhatian serius karena disebut terjadi di lingkungan Mabes TNI AU.

"Harapan kami, Pak Presiden Prabowo, Pak KSAU juga Panglima TNI bisa mengevaluasi lebih terkait kejadian ini. Karena kejadiannya di Mabes AU, bukan di luar Jawa," ujarnya.

"Di Mabes AU saja bisa kejadian seperti ini, saya sangat prihatin selaku orang tua kehilangan anak saya," ucapnya.

Diketahui, jenazah Serda Ahmad Muzammil tiba di rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 01.00 WIB menggunakan ambulans TNI AU. Jenazah kemudian dimakamkan di tempat pemakaman umum desa setempat.


Editor : Donald Karouw

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network