Menurut Haryadi, karakteristik nisan tersebut umum ditemukan pada periode peralihan dari kebudayaan Hindu-Buddha menuju perkembangan awal Islam.
“Nisan menyerupai kelir atau gunungan, dengan bagian atas melebar. Bentuknya menyerupai gunungan dalam pewayangan atau kurawal makara kuno,” ucapnya.
Nisan tersebut dibuat dari batu andesit dengan permukaan yang memperlihatkan guratan kasar bekas pahatan manual. Pada bagian bawah, nisan diduga berdiri di atas umpak batu berbentuk persegi dan bertingkat.
Bentuk umpak tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan gaya arsitektur masa pra-Islam. Temuan ini menjadi salah satu petunjuk yang memperkuat dugaan bahwa makam tersebut berasal dari masa transisi budaya.
Dia menyebut, bentuk nisan memperlihatkan adanya percampuran unsur budaya dalam perkembangan sejarah Jawa. Gaya pahatan dari tradisi klasik Majapahit dan Demak berpadu dengan tradisi pemakaman Islam.
Hingga kini, identitas tokoh yang dimakamkan maupun kepastian usia makam masih menjadi misteri. Penggalian dan kajian terhadap temuan di lokasi diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai sejarah makam tersebut.
Editor : Kurnia Illahi
Artikel Terkait