Ibu-ibu mengemas abon limbah kulit kedelai hasil inovasi mahasiswa UMM, Jumat (17/9/2021). (Foto: Okezone/Avirista Midaada).

Selain materi teknis, ada pula pendampingan mengenai cara memasarkan produk, baik itu online maupun offline. Ibu-ibu Desa Tanjungtani juga diajarkan pembukuan penghitungan, pengeluaran, dan pemasukan. Hal ini dilakukan agar UMKM yang dibangun menjadi ekonomi mandiri desa serta mampu bertahan ke depannya.

Dia menuturkan, pendampingan yang dilakukan berefek positif kepada masyarakat. Para ibu-ibu ini saat bisa memproduksi dan memasarkan secara mandiri produk abon dari limbah kedelai.

"Produk abon dipatok di kisaran Rp15.000-Rp20.000. Menurut saya, ini adalah langkah yang positif karena para warga bisa memanfaatkan kulit ari kedelai yang sebelumnya hanya limbah menjadi produk yang memiliki nilai jual," tuturnya.

Kini program pemberdayaan ketiga mahasiswa ini juga menjadi PKM PM yang lolos pendanaan dan bakal dibiayai oleh Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (DIKTI), Mei lalu.

"Kami berharap terus bekerja sama dan melanjutkan produksi abon, sehingga dapat menciptakan kemandirian ekonomi bagi Desa Tanjungtani, sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat," katanya. 


Editor : Ihya Ulumuddin

Sebelumnya
Halaman :
1 2

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network