MALANG, iNews.id - Pagi itu, di sela embusan angin dingin diiringi suara bacaan Alquran yang saling bersahutan dari pengeras suara musala, terdengar langkah riang anak-anak kecil dari Desa Tawangsari. Raut muka mereka menyiratkan kebahagiaan, tak sabar mereka lepaskan jabat tangan orang tuanya yang mengantar di depan gerbang bertuliskan Bumi Maringi Peni.
Anak-anak berlari cepat menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu tiba. Hari itu, sebuah acara bertajuk Pesantren Ramadan (Trendan) 1442 Hijriah digelar di Ponpes Fathussalam, Bumi Maringi Peni (BMP), Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tepatnya pada Sabtu (17/4/2021).
Sedari pagi anak-anak tampak semangat dan ceria hadir di acara ini. Tak kurang dari 68 anak mengikuti dengan khidmat dari awal hingga akhir. Para panitia menyiapkan acara dengan sangat matang.
Dikemasnya acara dengan sangat menarik, didukung dengan fasilitias gedung BMP yang sangat mendukung. Tak cuma bersih, namun juga sejuk, dikelilingi pepohonan, sayuran, bunga dan juga latar bebukitan yang sangat indah dipandang.
Di Pesantren Ramadan ini, anak-anak mendapatkan materi keislaman, motivasi, kegiatan baris berbaris, dan aneka permainan membentuk karakter. Anak-anak diajak untuk melakukan olah rasa dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan.
Salah satu inti dari acara ini, anak-anak diajak untuk berani bercita-cita. Seperti diketahui, banyak anak-anak dari kalangan tidak mampu yang belum berani bercita-cita. Mereka merasa minder dan pesimistis dengan keadaannya.
Padahal, salah satu cara untuk memutus rantai kemiskinan dan kebodohan bisa dimulai dari berani bercita-cita. Karena cita-cita memberikan sebuah gambaran tentang perwujudan akan seperti apa masa depan mereka.
Memiliki cita-cita membuat mereka fokus dan menumbuhkan daya juang untuk meraihnya. Hal ini pernah disampaikan oleh Zaim Ukhrowi dan diamini oleh Pembina Dompet Dhuafa, Parni Hadi, “Kunci lepas dari kemiskinan ialah dengan bercita-cita. Hidupnya jadi terarah dari kecil hingga dewasa.”
Dompet Dhuafa Jatim beserta relawan mengemas ajakan berani bercita-cita ini dengan cara yang unik. Setelah menyampaikan mimpinya kepada kakak pendamping dan temannya, anak-anak diminta menuliskan cita-citanya di sebuah balon.
Setelah itu mereka diajak berdoa dan optimistis agar cita-citanya tercapai. Sebagai simbolis ‘melangitkan’ cita-cita serta melangitkan doa, balon dilepaskan ke udara. Ada banyak sekali cita-cita yang dituliskan anak-anak. Ada yang ingin menjadi hafiz Quran, polisi hingga YouTuber.
Editor : Zen Teguh
Artikel Terkait