“Nilai-nilai pluralisme dan multikulturalisme mengandaikan sikap menghargai perbedaan, tidak menghina keyakinan orang lain. Apa yang terjadi di Swedia dan Belanda adalah wujud sesat pikir, logical fallacy,” ujar Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya ini.
Agatha memaparkan, kebebasan berekspresi harus dijalankan dalam koridor yang tidak menghina keyakinan orang lain. “Bila kebebasan berekspresi ditegakkan dengan sikap semau gue yang merugikan orang lain, maka itu bukan kebebasan berekspresi melainkan kesesatan berekspresi,” katanya.
Apa yang terjadi di Swedia maupun Belanda, lanjut Agatha, harus jadi pelajaran bagi seluruh masyarakat Indonesia. “Kita tidak boleh menghina keyakinan orang lain, tidak boleh menjelekkan agama orang lain, suku orang lain, budaya orang lain,” ujarnya.
Seperti diketahui, pembakaran Al-Quran dilakukan politikus sayap kanan, Rasmus Paludan, dalam demonstrasi di Stockholm, Swedia. Aksi provokatif juga dilakukan politisi sayap kanan Belanda, Edwin Wagensveld, yang merobek Alquran di Den Haag. Video-video itu beredar luas di media sosial.
Editor : Ihya Ulumuddin
Artikel Terkait