Jemaah Tarekat Syattariyah menggunakan metode hisab atau perhitungan kalender dalam menentukan awal Ramadan dan Syawal.
Pada tahun ini, mereka memulai puasa pada hari Selasa (17/3/2026), lebih awal dibandingkan penetapan pemerintah. Setelah genap 30 hari berpuasa, mereka menetapkan Idulfitri jatuh pada Kamis.
Imam salat Id sekaligus pengasuh pondok pesantren, Ahmad Khumaidi menyampaikan bahwa penentuan tersebut didasarkan pada perhitungan yang mereka yakini.
"Kan punya metode sendiri-sendiri, yang penting kan rukun semuanya ibadah karena Allah SWT," ujar Ahmad di lokasi.
Meski berbeda dengan penetapan pemerintah serta organisasi masyarakat Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, pelaksanaan salat Id berlangsung lancar. Petugas kepolisian turut berjaga di lokasi untuk memastikan keamanan.
Kapolsek Sukorejo, Iptu Agus Tri Cahyo Wiyono menyampaikan bahwa pengamanan dilakukan agar kegiatan berjalan tertib. "Jemaah yang merayakan Idulfitri hari ini sekitar seratusan orang di satu pondok pesantren ini," kata Iptu Agus.
Untuk menghormati warga sekitar, jemaah tidak menggunakan pengeras suara saat takbiran. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib hingga selesai.
Editor : Kurnia Illahi
Artikel Terkait