Di kawasan tersebut, tim juga menjumpai batu yang bentuknya menyerupai kapak perimbas. Temuan ini belum langsung dikategorikan sebagai artefak karena masih terbuka kemungkinan batu tersebut terbentuk secara alami.
“Ada batu yang bentuknya seperti kapak perimbas, tetapi kami belum bisa memastikan itu artefak. Bisa saja hanya batu atau material sedimen yang kebetulan memiliki bentuk menyerupai kapak,” ucapnya.
Sementara itu, objek yang diduga lebih berkaitan dengan aktivitas manusia masa lampau ditemukan di area daratan. Tim mendapati benda berbahan kalsedon dengan panjang sekitar 15 sentimeter yang diduga merupakan mata panah.
Benda tersebut kini telah diamankan di museum agar dapat diperiksa lebih lanjut. “Di titik daratan kami menemukan benda yang diduga mata panah dari bahan kalsedon dengan panjang sekitar 15 sentimeter. Temuan itu kami amankan di museum agar bisa diteliti lebih lanjut,” katanya.
Kotasejuk mengingatkan, penemuan di Hutan Tritik tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai keberadaan maupun usia aktivitas manusia pada masa lampau. Setiap objek masih membutuhkan kajian untuk mengetahui asal-usul, usia, dan konteks keberadaannya.
“Temuan-temuan ini belum bisa langsung disimpulkan. Kami perlu penelitian lebih lanjut supaya identitas, usia, dan konteks temuannya dapat diketahui secara lebih tepat,” ucapnya.
Seluruh hasil observasi tersebut kemudian didokumentasikan sebagai bahan kajian awal. Kotasejuk berharap penelitian lanjutan dapat mengungkap lebih jelas potensi sejarah, arkeologi, dan paleontologi yang tersimpan di kawasan Hutan Tritik.
Editor : Kurnia Illahi
Artikel Terkait