Warga Malang Ditangkap karena Jual Burung Dilindungi Asal Papua melalui Facebook

Saif Hajarani ยท Selasa, 03 Maret 2020 - 17:59 WIB
Warga Malang Ditangkap karena Jual Burung Dilindungi Asal Papua melalui Facebook
Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar dan tersangka AS saat ekspos kasus di Mapolres Malang. (Foto: iNews/Saif Hajarani)

MALANG, iNews.id - Jaringan perdagangan satwa dilindungi diungkap polisi di Malang, Jawa Timur (Jatim). Burung-burung langka asal Sorong berhasil diamankan dan akan dilepasliarkan.

AS, warga Kota Malang ditangkap petugas dari Polres Malang karena memperjualbelikan satwa langka. Pelaku menawarkan burung dilindungi tersebut melalui media sosial Facebook.

Pelaku mengaku membawa 25 ekor burung-burung langka dari Sorong, Papua menuju Surabaya melalui jalur laut. Dari Surabaya, pelaku membawa hewan-hewan ini ke Malang menggunakan mobil.

Untuk mengelabui petugas, tersangka membawa satwa ini dengan menggunakan kardus. Sayang enam di antaranya mati dalam perjalanan.

Burung yang dibawa pelaku di antaranya Burung Nuri Bayan Merah, Nuri Kepala Hitam, Kakaktua Jambul Kuning, Nuri Pelangi, Nuri Hitam Papua, Burung Kasturi, Burung Beo Papua, dan Burung Mazda.

Pelaku sempat menjual satwa ini dengan harga antara Rp300.000 hingga Rp2 juta. Ada beberapa ekor satwa yang belum sempat dijual tersangka.

Hewan-hewan tersebut kini diamankan polisi sebagai barang bukti. Rencananya, satwa yang dilindungi ini akan dikembalikan ke habitatnya setelah sebelumnya diserahkan pada BKSDA untuk dilakukan perawatan.

Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar mengatakan, tersangka berhasil ditangkap usai petugas menyamar menjadi pembeli dan menghubungi akun Facebook tersangka. Saat transaksi, ada dua burung yang berhasil diamankan.

“Saat pemeriksaan di rumah pelaku, petugas menemukan enam hewan dilindungi lain,” katanya, saat ekspos kasus di Mapolres Malang Kota, Selasa (3/3/2020).

Dia menambahkan, perdagangan satwa dilindungi ini cukup marak melalui media sosial. Penjualan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sehingga butuh waktu panjang untuk mengungkap jaringan perdagangan ini.

Sementara menurut Kasi Konservasi Wilayah IV BKSDA Jatim, Mamat Ruhmat mengatakan, hewan-hewan ini akan dikembalikan ke habitat sesuai dengan karakter dari satwa. “Populasi hewan-hewan ini sudah berkurang dan masuk appendix dan langka,” katanya.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat Undang-Undang nomor 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.


Editor : Umaya Khusniah