Tukang Sampah di Kota Malang Jadi Caleg karena Prihatin Korupsi Massal

Ihya' Ulumuddin, Deni Irwansyah ยท Senin, 18 Maret 2019 - 11:46 WIB
Tukang Sampah di Kota Malang Jadi Caleg karena Prihatin Korupsi Massal
Dwi Haryadi di samping spanduk kampanyenya sebagai Calon Legislatif (Caleg) DPRD Kota Malang, Senin (18/3/2019). (Foto: iNews/Deni Irwansyah)

MALANG, iNews.id – Kasus korupsi massal yang melibatkan 41 anggota DPRD Kota Malang beberapa waktu lalu mengilhami tukang sampah, Dwi Hariyadi, terjun ke dunia politik. Dia maju sebagai calon anggota DPRD Kota Malang pada 17 April mendatang.

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Malang, warga Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang ini maju sebagai caleg dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dwi berada di nomor urut 8, di daerah pemilihan (Dapil) 3, wilayah Kecamatan Kedungkandang.

Dwi mengaku, tertantang maju sebagai calon anggota legislatif lantaran prihatin dengan kasus korupsi 41 anggota DPRD Kota Malang beberapa waktu lalu. Dwi ingin memberi contoh bahwa orang kecil seperti dirinya bisa berbuat lebih baik daripada 41 wakil rakyat yang dipenjara gara-gara korupsi.

“Saya prihatin melihat kondisi DPRD Kota Malang. Bayangkan 41 anggota ditangkap KPK akibat korupsi. Imbasnya, masyarakat menjadi apatis. Karena itu saya maju dengan niat memperbaiki semua kondisi itu,” kata laki-laki yang sudah 23 tahun ini menjadi tukang pungut sampah.


BACA JUGA: Bersama Perindo, Caleg Disabilitas Ini Siap Perjuangkan Kaum Difabel


Dwi mengaku sudah lebih dari empat kali ditawari sejumlah partai politik (parpol) untuk maju. Namun, dia terus menolak. Alasannya, selain karena hanya lulusan sekolah dasar (SD), dia juga tidak punya modal layaknya caleg lainnya.

“Tetapi, karena dorongan banyak pihak, saya akhirnya putuskan untuk maju,” katanya.

Benar juga, Dwi pun menggunakan strategi kampanye berbeda dengan caleg kebanyakan. Dwi tidak mencetak banyak banner atau baliho dengan biaya mahal, tetapi dengan kartu nama. Itu pun disebarkan kepada para tetangga yang dia kenal.

Caranya, setiap kali memungut sampah, Dwi akan mengetuk pintu rumah warga, dan membagikan kartu namanya. “Saya pede saja. Tidak minder. Saya akan berusaha agar tidak disepelekan. Bismillah,” katanya.


Editor : Maria Christina