Tolak Seruan People Power, PMII Jatim Minta Masyarakat Tunggu KPU

Ihya Ulumuddin · Senin, 22 April 2019 - 19:30 WIB
Tolak Seruan People Power, PMII Jatim Minta Masyarakat Tunggu KPU
Ketua Umum PKC PMII Jatim, Abdul Ghoni dalam konferensi pers, Senin (22/4/2019) petang. (Foto: iNews.id/Ihya' Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id – Pengurus Koordinator Cabang (Korcab) PMII Jawa Timur menolak seruan people power terkait hasil Pemilu 2019. Elemen mahasiswa ini menilai seruan massa bukannya menyelesaikan masalah, tetapi justru memantik konflik sosial lebih besar.

PMII menilai akan lebih baik bila semua pihak menunggu proses rekapitulasi KPU selesai. “Kita melihat sebuah pesta demokrasi ini harus berjalan dengan lancar, tanpa ada provokasi dan intervensi untuk mengubah semua hasil,” kata Ketua Umum PKC PMII Jatim, Abdul Ghoni dalam konferensi pers, Senin (22/4/2019) petang.

Ghoni menambahkan, ancaman people power justru membuat seolah-olah negara gagal menyelenggarakan Pemilu. Gerakan ini (people power), kata dia, juga mencederai spirit demokrasi yang konstitusional.

Ghoni menjelaskan, seluruh sengketa kepemiluan telah disediakan perangkat penyelesaiannya, yakni melalui Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) hingga Mahkamah Konstitusi (MK). Bukan melalui gerakan massa.

Bagi PMII, ajakan show of force dalam suasana pasca perhelatan demokrasi, tak lain adalah upaya pendelegitimasian atas lembaga-lembaga negara. Gerakan tersebut juga tak ubahnya sebagai bentuk pembangkangan atas negara. “Kita tidak tidak ingin sejarah kelam tentang gerakan massa terulang,” katanya.

Ghoni mencontohkan, beberapa peristiwa kelam yang berlatar benturan politik kekuasaan, mulai dari PRRI/Permesta, peristiwa Madiun 1948, hingga yang paling gelap gerakan 30 September 1965 yang hingga kini masih seringkali menjadi pergunjingan otoritas HAM internasional.

Karena itu, PMII Jatim meminta elite politik tidak perlu lagi melancarkan isu people power, karena memang Pemilu berjalan dengan lancar dan tinggal menunggu hasilnya dari KPU. “Mungkin sedikit beberapa titik ada kejadian-kejadian, dan saya pikir pihak kepolisian maupun TNI sudah bisa meredamnya,” katanya.

Di sisi lain, Ghoni juga mengimbau kepada PMII se-Jatim dan juga seluruh mahasiswa agar berpikir cerdas dan bisa meredam konflik di level bawah.

“Sebagai agent of change, kontrol, dan agen sosial, bisa mengontrol agar people power ini tidak perlu terjadi. Kita harus bisa meredam konflik-konflik di bawah, karena akan merugikan semua pihak,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki