Terekam CCTV, Pemuda Bersenjata Celurit Serang Petugas Mapolsek di Probolinggo

Hana Purwadi ยท Jumat, 06 September 2019 - 18:30 WIB
Terekam CCTV,  Pemuda Bersenjata Celurit Serang Petugas Mapolsek di Probolinggo
Pelaku penyerangan petugas Polsek Krejengan, Mohamad Sukardi digiring petugas ke ruang tahanan Polres Probolinggo. (Foto: iNews.id/Hana Purwadi)

PROBOLINGGO, iNews.id – Petugas jaga kantor markas polisi sektor (Mapolsek) Krejengan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur diserang pemuda bersenjatakan celurit.

Pelaku diketahui bernama Mohamad Sukardi (29). Selain menangkap pelaku, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti di antaranya celurit yang dibawa pelaku, sepeda motor dan botol minuman keras.

Aksi pelaku menyerang Polsek Krejengan itu terekam kamera pengintai atau CCTV. Saat itu, pelaku dengan mengendarai motor, menggeber-geber motornya dan kemudian memasuki mapolsek.

Kasatreskrim Polres Probolinggo, AKP Riyanto mengatakan, aksi pelaku ini bukan karena ikut organisasi radikal, namun terpengaruh minuman keras (miras) dan pil koplo.

Saat itu, pelaku menggeber-geberkan sepeda motornya di depan mapolsek. Setelah ditegur, pelaku mendatangi petugas jaga sambil menggeberak meja.

“Tersangka pada Kamis malam sekitar jam 8 malam ujug-ujug atau tiba-tiba datang ke polsek. Setelah itu, sempat gebrak meja dan ambil celurit. Kemudian anggota langsung tanggap dan menangkap pelaku. Setelah diperiksa, ternyata ada sajam berupa celurit,” katanya.

Kepada penyidik, pelaku Mohamad Sukardi mengaku menggeberak meja karena terpengaruh minuman keras dan pil koplo.

Dia juga berdalih celurit yang dibawanya hanya untuk berjaga-jaga, karena dirinya diancam pemuda desa tetangga pasca-tawuran beberapa hari lalu.

“Saya hanya tanya sambil gebrak meja. Saya bawa celurit karena untuk berjaga jaga,” ucapnya.

Hasil catatan kepolisian, pelaku terkenal nakal suka mabuk-mabukan dan berkelahi dengan pemuda lainya.

Pada 2014 lalu, pelaku juga pernah berurusan dengan polisi dalam kasus yang sama dan dijerat  Pasal 351 tentang Penganiayaan dan mendekam dalam tahanan selama delapan bulan.


Editor : Kastolani Marzuki