BOJONEGORO, iNews.id – Cuaca panas melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Di Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim), suhu pada siang hari bahkan mencapai 44 derajat celsius. Selain membuat warga kepanasan, cuaca yang sangat panas itu juga membuat peristiwa kebakaran meningkat tajam.
Menurut warga, suhu panas tersebut sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir. Peningkatan suhu udara itu salah satunya disebabkan kemarau panjang yang melanda Kabupaten Bojonegoro. Kondisi tersebut sudah berlangsung sejak enam bulan terahir.
Suhu hingga 42 Derajat Celcius, Warga Bojonegoro: Sudah Beberapa Bulan Terakhir Seperti Ini
Cuaca panas juga memicu peristiwa kebakaran di Bojonegoro meningkat tajam. Sepanjang hari Jumat ini saja, sudah terjadi dua kali kebakaran. Salah satu rumah yang terbakar milik Fatkhur Efendi, warga Desa Sukorejo, Kecamatan Kota Bojonegoro.
Kebakaran diduga akibat pembakaran sampah yang dilakukan di belakang rumah, lalu menyambar dinding. Beruntung tidak ada korban jiwa. Namun, kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Kemarau Panjang di Bojonegoro, Suhu Udara Capai 41 Derajat Celsius
“Kami langsung menurunkan empat unit kendaraan setelah mendapat informasi mengenai kebakaran. Alhamdulillah api sudah bisa kami kendalikan,” kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Bojonegoro Andik Sujarwo
Andik Sujarwo mengatakan, data di Dinas Kebakaran, belum genap satu bulan sudah terjadi sebanyak 30 kali peristiwa kebakaran. Rata-rata peristiwa tersebut disebabkan hubungan pendek arus listrik.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai fenomena suhu panas hingga sepekan ke depan. Potensi suhu panas ini masih meliputi wilayah-wilayah di Selatan ekuator.
Kulminasi suhu panas tersebut terjadi karena beberapa faktor, antara lain karena titik kulminasi matahari yang masih berada di wilayah Jawa ke daerah Selatan. Kemudian, kondisi cuaca cerah di wilayah Indonesia yang saat ini masih mendominasi.
Cuaca cerah tersebut terjadi karena karena ada fenomena anomali suhu dingin di wilayah perairan Indonesia yang menyebabkan pertumbuhan awan hujan sangat sulit terbentuk di Wilayah Sumatera, Jawa dan sekitarnya. Kondisi ini diperkirakan masih terjadi hingga 30 Oktober 2019.
Editor: Maria Christina