Sosok Kiai Abdul Latif Madjid, Siarkan Salawat Wahidiyah dan Perjuangkan Ponpes Kedunglo

Solichan Arif ยท Senin, 23 November 2020 - 17:41:00 WIB
Sosok Kiai Abdul Latif Madjid, Siarkan Salawat Wahidiyah dan Perjuangkan Ponpes Kedunglo
Proses pemakaman jenazah almarhum KH Abdul Latif Madjid, pengasuh Perjuangan Salawat Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo, Bandar Lor, Mojoroto, Kota Kediri. (Foto: ist)

KEDIRI, iNews.id - Kepergian KH Abdul Latif Madjid meninggalkan duka mendalam bagi para jemaah Salawat Wahidiyah.
Imam Besar Salawat Wahidiyah yang sejak tahun 1989 mengasuh Ponpes Kedunglo tersebut, meninggal dalam usia 68 tahun, Senin (23/11/2020) sekitar pukul 06.30 Wib.

"Meninggal dunia pada usia 68 tahun," tutur Ketua Departemen Urusan Wilayah Perjuangan Wahidiyah, Aminudin kepada wartawan Senin (23/11/2020).

Kiai Abdul Madjid Ma'roef menyiarkan Salawat Wahidiyah yang isinya ditujukan kepada Nabi Muhammad dan diucapkan dengan suara keras serta cucuran air mata. Salawat Wahidiyah ini mulai diamalkan para santri Pondok Pesantren Kedunglo, Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, tepatnya tahun 1963.

Salawat Wahidiyah merupakan hasil karangan Kiai Madjid. Karenanya di lingkungan pengamal Salawat Wahidiyah, Kiai Abdul Madjid Ma'roef disebut sebagai mualif atau pengarang.

Di era Kiai Abdul Madjid Ma'roef pula, Ponpes Kedunglo Kediri mulai menerima banyak santri yang sebelumnya di era Kiai Mohammad Ma'roef maksimal hanya 40 santri. Sepeninggal Kiai Abdul Madjid Ma'roef, kepemimpinan perjuangan mengamalkan Salawat Wahidiyah dilanjutkan Kiai Abdul Latif Madjid. Pada tahun 1997, Kiai Abdul Latif melegalkan Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Ponpes Kedunglo.

Sejak itu keberadaan perjuangan Salawat Wahidiyah dan Ponpes Kedunglo diakui secara hukum. Kiai Abdul Latif juga mendirikan 11 departemen yang bertugas menyiarkan Salawat Wahidiyah melalui cabang yang tersebar di Indonesia.

Di tangan pengasuh Perjuangan Salawat Wahidiyah KH Abdul Latif Madjid ini pula, wajah Pondok Pesantren Kedunglo, banyak berbenah. Untuk pertama kalinya di tahun 1998, Pesantren Kedunglo memiliki Sekolah Ilmu Ekonomi Wahidiyah. Hanya selisih empat tahun kemudian (2002), menyusul berdiri Sekolah Tinggi Ilmu Syariah.

Sebagaimana pesantren salafiyah yang hanya mengajarkan kitab kuning, sejak itu Ponpes Kedunglo praktis mempunyai kampus yang diberi nama Universitas Wahidiyah. Sebelumnya pada tahun 1990, Kiai Abdul Latif Madjid juga memprakarsai berdirinya pembangunan gedung baru SMP dan SMA. Hebatnya, biaya pembangunan yang tembus Rp1 miliar berasal dari sukarela jemaah pengamal Salawat Wahidiyah.

Di era kepemimpinan Kiai Abdul Latif, pembangunan infrastruktur pendidikan di lingkungan Ponpes Kedunglo nyaris tidak berhenti. Pada tahun 1996 berdiri sekolah dasar (SD). Menyusul dua tahun kemudian atau 1998, pembukaan pesantren khusus anak anak.

Kiai Abdul Latif merupakan putra almarhum KH Abdul Madjid Ma'roef yang wafat pada tahun 1989. Sebelum wafat di usia 71 tahun, Kiai Abdul Madjid memimpin Ponpes Kedunglo selama 34 tahun.

M Solahudin dalam "Napak Tilas Masyayikh, Biografi 25 Pendiri Pesantren Tua di Jawa dan Madura" menyebut, Ponpes Kedunglo berdiri pada tahun 1901. Ponpes ini lebih tua dari Ponpes Lirboyo Kediri yang berdiri tahun 1910 dan Ponpes Ploso Kediri tahun 1924.

Editor : Maria Christina