Sidang Pendeta Cabuli Jemaah di Surabaya, Ketua KPAI Minta JPU Gunakan Pasal Berlapis

Rahmat Ilyasan ยท Rabu, 27 Mei 2020 - 23:11 WIB
Sidang Pendeta Cabuli Jemaah di Surabaya, Ketua KPAI Minta JPU Gunakan Pasal Berlapis
Pendeta di Surabaya yang diduga mencabuli jemaah di bawah umur. (Foto: iNews/Rahmat Ilyasan)

SURABAYA, iNews.idSidang pencabulan anak yang dilakukan seorang pemuka agama, Hanny Layantara (HL), dengan agenda pembacaan eksepsi berlangsung di Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Rabu (27/5/2020). Dalam sidang ini, hadir Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPAI) Arist Merdeka Sirait.

Kehadiran Arist untuk memantau jalannya persidangan kasus pencabulan anak. Menurutnya, hal ini termasuk kejahatan luar biasa dan dilakukan berulang. Maka dari itu dia meminta jaksa penuntut umum (JPU) menyertakan pasal berlapis bahkan hukuman kebiri.

Pasal yang Arist maksud yakni UU Perlindungan Anak yang memiliki ancaman hukuman minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun serta UU No 17 Tahun 2016 dengan ancaman hukuman 10 tahun dan maksimal 20 tahun.

“Bahkan bisa dihukum seumur hidup dan bisa ditambahi hukuman kebiri lewat suntik kimia” katanya, Rabu (27/5/2020).

Menurut Arist, pencabulan tersebut dilakukan berulang kali yang artinya memang disengaja. Maka dari itu, menurutnya, pidana pokoknya bisa ditambah kebiri, atau bahkan dipasang chip agar dapat memonitor pelaku.

Selain meminta JPU menggunakan pasal berlapis, Arist juga mempertanyakan alasa sidang ini diselenggarakan secara tertutup dan dirinya tidak diperbolehkan masuk.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, Jefri Simatupang meminta kepada masyarakat untuk menghormati sidang tertutup tersebut. Dia juga meminta siapapun untuk tidak berkomentar dan menggiring opini masyarakat.

“Tanggal 4 Juni nanti ada di sidang putusan sela. Saya berharap hakim memberikan putusan seadil-adilnya,” katanya.

Sebelumnya, korban dibawah umur mengaku jemaah gereja dicabuli pendetanya. Setelah pelaporan, kepolisian langsung melakukan penyelidikan dan menetapkan Hanny Layantara (HL) sebagai tersangka.

Dalam hasil gelar perkara, ada kesesuaian antara keterangan saksi, korban, tersangka dan barang bukti yang ditemukan. Akhirnya pendeta ditangkap penyidik Polda Jatim karena ada dugaan upaya kabur ke luar negeri dengan alasan ada undangan untuk memberikan ceramah.


Editor : Umaya Khusniah