Serapan Anggaran Penanganan Covid-19 di Surabaya masih Rendah

Antara ยท Selasa, 16 Juni 2020 - 15:28 WIB
Serapan Anggaran Penanganan Covid-19 di Surabaya masih Rendah
Ilustrasi anggaran. (Foto: Istimewa)

SURABAYA, iNews.id - Penyerapan anggaran penanganan Covid-19 di Kota Surabaya, Jawa Timur (Jatim) masih terhitung rendah. Jika dilihat dari postur APBD Kota Surabaya, dana untuk penanganan Covid-19 menyentuh angka Rp208,9 miliar Sayangnya, dari angka itu, baru terserap 23 persen saja.

Menurut Wakil Ketua DPRD Surabaya, Reni Astuti, anggaran di APBD itu sebenarnya berasal dari refocusing dan realokasi APBD Surabaya tahun ini dengan besaran Rp196,4 miliar ditambah dengan alokasi belanja tidak terduga pada APBD murni sebesar Rp12,5 miliar.

"Namun anggaran tersebut baru terserap kurang lebih 23 persen," kata Reni, Selasa (16/6/2020).

Dia juga melihat ada anggaran dalam aspek sosial sebesar Rp161,075 miliar yang belum digunakan oleh Pemerintah Kota Surabaya dalam penanganan Covid-19. Hal ini, bagi Reni, karena pemkot mengoptimalkan bantuan-bantuan dari kementerian sosial (kemensos), pemerintah provinsi (pemprov) dan pihak swasta.

"Adanya bantuan-bantuan tesebut perlu disyukuri sehingga Pemkot Surabaya masih punya alokasi untuk anggaran penanganan Covid-19," ujarnya.

Meski demikian, Reni tetap menegaskan bahwa harus ada kepastian terkait dengan masalah sosial di Surabaya. Kalau sekiranya masih ada warga yang kesulitan, lanjut dia, maka Pemkot Surabaya jangan sampai tidak melakukan intervensi dalam bentuk apapun.

Sebelumnya, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini sempat menyampaikan kepada awak media bahwa pihaknya memang tengah melakukan penghematan. Untuk hal ini, Reni bisa bersepekat, tapi langkah penghematan juga harus diiringi dengan ketepatan dalam menggunakan anggaran dan langkah strategis kebijakan.

Di Surabaya, ketika angka positif Covid-19 sudah mulai meninggi, yang secara kumulatif bisa dikatakan positif mencapai 4.014 orang, sembuh 1.269 orang dan meninggal 317 orang. Angka ini, bagi Reni, semestinya menjadi evaluasi mendalam bagi Pemkot Surabaya di antaranya adalah alokasi anggaran dan penggunaan anggaran hingga saat ini.

"Kalau dengan alasan penghematan, pemkot tidak memberikan dukungan anggaran pada program yang sifatnya unggulan dan signifikan dalam penanganan Covid-19, saya kira itu kurang tepat. Seharusnya saat ini menjadi momen yang penting, kritis dan krusial dalam penanganan Covid-19," katanya.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebelumnya mengakui bahwa dirinya berpikir panjang untuk memastikan anggaran yang digunakan untuk belanja tersebut benar-benar efektif.

Selain itu, Risma memang tidak suka bila mengeluarkan biaya besar, tapi hanya untuk jangka pendek. Dikhawatirkan peralatan yang hanya khusus untuk penanganan Covid-19 itu tidak terpakai begitu pandemi berakhir.

Dia menyebutkan bahwa anggaran yang dimiliki pemkot memang terbatas sehingga harus benar-benar dihemat dan dialokasikan untuk penanganan jangka panjang.


Editor : Umaya Khusniah