get app
inews
Aa Text
Read Next : Pelajar di Serdangbedagai Tewas Dikeroyok, Ibu Korban Minta Pelaku Dihukum Mati

Santri di Jember Dianiaya 9 Seniornya karena Dituduh Curi Baju dan Tak Mau Bagi Roti

Rabu, 30 Oktober 2019 - 19:12:00 WIB
Santri di Jember Dianiaya 9 Seniornya karena Dituduh Curi Baju dan Tak Mau Bagi Roti
Petugas Unit PPA Polres Jember meminta keterangan dari keluarga korban kasus dugaan penganiayaan di Mapolres Jember, Jatim, Rabu (30/10/2019). (Foto: iNews/Bambang Sugiarto)

JEMBER, iNews.id – Seorang santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Nuris Antirogo Kabupaten Jember, Jawa Timur (Jatim), dianiaya sembilan seniornya karena dituduh mencuri. Tak terima dengan penganiayaan itu, keluarga santri melaporkan para pelaku ke Polres Jember.

Dalam pengaduan ke petugas Unit Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Polres Jember, Mohamad Nasir menceritakan penganiayaan yang dialaminya di Ponpes Nuris Antirogo Jember.

Kasat Reskrim Polres Jember AKP Jumbo Y Kontason mengatakan, korban mengaku dianiaya oleh sembilan orang senior pada awal Oktober lalu. Kejadian bermula saat Nasir mengambil baju lelang yang memang sudah tidak dipakai di ponpes itu. Baju-baju tersebut diperbolehkan dipakai siapa saja, namun tetap harus dicuci kembali agar bersih.

Nasir berencana untuk membawa satu baju lelang itu dan mencucinya. Dia kemudian memakai baju itu untuk kegiatan di ponpes. Namun, ternyata seniornya menuduh Nasir mencuri baju itu. Nasir kemudian dianiaya dengan cara memukul bagian dadanya.

“Padahal dia menemukan baju itu di tumpukan baju lelang di pondok pesantren itu. Sesuai aturan yang berlaku di pondok pesantren itu, baju-baju tersebut bisa dipakai oleh siapa saja,” ujar Jumbo Y Kontason di Mapolres Jember, Rabu (30/10/2019).

Sepekan kemudian, seniornya juga meminta roti milik Nasir. Namun, Nasir menolak karena roti tersebut dibawa kakaknya untuk dimakan di ponpes sebagai tambahan asupan gizi. Karena penolakan itu, sembilan kakak kelas memukul Nasir.

Kasus dugaan penganiayaan tersebut baru terungkap setelah Nasir sakit karena dipukuli para seniornya. Di hadapan guru dan teman-teman sekolah, Nasir mengaku sakit tipus. Pihak pondok pesantren lalu memberitahukan kepada keluarganya. Namun, keluarga curiga karena melihat ada bekas luka di dada Nasir.

Keluarga lalu membujuk Nasir untuk menceritakan kejadian sebenarnya perihal sakit yang dia derita. Nasir akhirnya menceritakan penganiayaan yang dia alami. Keluarga pun terkejut mengetahui Nasir sakit karena ulah senior-senior di ponpes.

Meski penganiayaan tersebut terjadi pada awal Oktober 2019 lalu dan Nasir sudah terlihat sehat, keluarga tetap tak menerima. Mereka memutuskan melaporkan kasus tersebut kepada polisi.

“Kami langsung menindaklanjuti Polres Jember dengan meminta keterangan dari saksi-saksi dan juga korban. Korban juga divisum untuk membuktikan penganiayaan yang dialami,” kata Jumbo Y Kontason.

Sementara itu, Humas Ponpes Nuris Jember, Gus Robit saat dikonfirmasi mengaku kasus tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan karena menganggap itu kenakalan anak sesama anak. Pondok pesantren memediasi keluarga korban dan para senior yang memukul pada awal bulan lalu.

“Pengurus juga sudah memberikan sanksi tegas kepada pelaku. Namun, kami tidak mengerti mengapa kasus ini diangkat kembali ke permukaan,” kata Gus Robit.

Editor: Maria Christina

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut