Presiden Jokowi Imbau Masyarakat Punya Perasaan yang Sama terkait Krisis Ekonomi Kesehatan

Antara ยท Kamis, 25 Juni 2020 - 12:58 WIB
Presiden Jokowi Imbau Masyarakat Punya Perasaan yang Sama terkait Krisis Ekonomi Kesehatan
Presiden Joko Widodo saat memberi pengarahan di sela kunjungan kerjanya memantau percepatan penanganan COVID-19 di Gedung Negara Grahadi di Surabaya, Kamis (25/06/2020). (Foto: Antara)

SURABAYA, iNews.id - Presiden Joko Widodo mengingatkan seluruh warga untuk memiliki perasaan sama yakni sedang menghadapi krisis kesehatan dan ekonomi. Hal ini disampaikan di sela kunjungan kerja memantau percepatan penanganan Covid-19 di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jawa Timur (Jatim) Kamis (25/6/2020).

“Ingat, jangan ada yang memiliki perasaan bahwa saat ini keadaannya normal-normal saja karena itu berbahaya sekali,” ujar Presiden Jokowi.

Menurut dia, krisis kesehatan dan ekonomi akibat Covid-19 tak hanya dirasakan masyarakat Indonesia. Semua orang di berbagai negara di dunia juga tengah mengahadapi masalah serupa.

“Tidak hanya di Indonesia, karena Covid-19 ini menyerang di 215 negara,” ucap Jokowi.

Jokowi juga mengajak agar masyarakat sadar dan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Di antaranya menggunakan masker, mencuci tangan setelah kegiatan, tidak berkerumun dan jaga jarak.

“Jangan sampai ada masyarakat yang memiliki perasaan normal saja sehingga kemana-kemana tak pakai masker dan lainnya. Ini yang harus terus diingatkan,” katanya.

Presiden Jokowi mengaku telah mendapat informasi jika krisis ekonomi global adalah nyata. Saat ini sudah banyak negara yang merasakan.

IMF, kata dia, memprediksi pada tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat akan minus 8 persen, Jepang minus 5,8 persen, Inggris minus 10,2 persen, Perancis minus 12,5 persen, Italia minus 12,8 persen, Spanyol minus 12,8 persen dan Jerman minus 7,5 persen.

“Artinya apa? Permintaan, penawaran dan produksi akan terganggu. Ini harus diketahui bersama bahwa kita dalam proses mengendalikan kesehatan, tapi juga miliki masalah lain, yaitu urusan ekonomi,” katanya.

Presiden menambahkan, dalam mengelola manajemen krisis, antara rem dan gas harus seimbang. “Tidak bisa gas urusan ekonomi, tapi kesehatan terabaikan. Tidak bisa juga konsentrasi penuh urusan kesehatan, tapi ekonomi terganggu," katanya.

Hal ini juga diungkapkan presiden kepada seluruh kepala daerah. Kesulitan saat ini yakni mengatur agar gas serta rem dikerjakan bersamaan.


Editor : Umaya Khusniah