Polda Jatim Gerebek Industri Rumahan Obat Kuat di Surabaya, 3 Orang Diamankan

Ihya Ulumuddin ยท Senin, 24 Februari 2020 - 18:34 WIB
Polda Jatim Gerebek Industri Rumahan  Obat Kuat di Surabaya, 3 Orang Diamankan
Dirreskoba Polda Jatim Kombes Pol Cornelis Maharagung Simanjuntak (berkacamata) menunjukkan barang bukti dari penggerebekan industri rumahan pembuatan obat kuat di Surabaya, Senin (24/2/2020). (Foto: iNews.id/Ihya' Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id – Ditresnarkoba Polda Jawa Timur (Jatim) menggerebek industri rumahan pembuatan obat kuat di Jalan Babadatan Pilang, Blok G1, No 11, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya, Senin (24/2/2020). Tiga orang diamankan dalam penggerebekan itu yang terdiri atas pemilik dan dua orang pekerja.

Polisi juga mengamankan sejumlah bahan baku dan perlengkapan produksi sebagai barang bukti, di antaranya serbuk Sildenafil Sitrat dan tepung herbal. Sildenafil adalah obat yang digunakan untuk menangani disfungsi ereksi atau impotensi.

Dua jenis bahan baku itu dikemas dalam karung berukuran 60 kilogram (kg). Tak hanya itu, polisi juga mengamankan berbagai alat bantu seks untuk perempuan.

“Kami juga menemukan 60 kardus berisi obat kuat siap edar. Barang bukti ini kami amankan di lokasi berbeda, tak jauh dari tempat produksi,” kata Dirreskoba Polda Jatim Kombes Pol Cornelis Maharagung Simanjuntak, Senin (24/2/2020).

Dirreskoba Polda Jatim Kombes Pol Cornelis Maharagung Simanjuntak (berkacamata) menunjukkan barang bukti dari penggerebekan industri rumahan pembuatan obat kuat di Surabaya, Senin (24/2/2020). (Foto: iNews.id/Ihya` Ulumuddin)
Dirreskoba Polda Jatim Kombes Pol Cornelis Maharagung Simanjuntak (berkacamata) menunjukkan barang bukti dari penggerebekan industri rumahan pembuatan obat kuat di Surabaya, Senin (24/2/2020). (Foto: iNews.id/Ihya` Ulumuddin)

Cornelis mengatakan, produksi obat kuat ilegal ini beroperasi sejak dua tahun lalu. Selain memasarkan secara online, pemilik juga kerap memproduksi obat kuat sesuai pesanan. Biasanya, barang tersebut dikirim menggunakan jasa pengiriman.

“Seluruh obat kuat ini diberi merek sendiri. Jenisnya beraneka macam. Ada Gatotkaca, Kingkobra dan Cleopatra. Semuanya tanpa izin, baik izin produksi, maupun izin edar,” ujarnya.

Polisi menjerat pelaku dengan pasal 196 dan 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara, atau denda Rp1,5 miliar.

Sementara itu, tersangka C pemilik home industry obat kuat mengaku memiliki keahlian meracik obat kuat sejak berjualan jamu di Jawa Tengah beberapa tahun lalu. Saat itu, dia memproduksi dan meracik sendiri obat tersebut. C mengaku mendapatkan kauntungan Rp10-20 juta per bulan dari bisnis ilegal itu.

“Kalau bahan-bahannya saya beli di Jakarta,” katanya.


Editor : Maria Christina