Peserta UTBK-SBMPTN Surabaya Keluhkan Syarat Rapid Test, Waktu Terlalu Mepet

Ihya Ulumuddin, Hari Tambayong ยท Sabtu, 04 Juli 2020 - 08:54 WIB
Peserta UTBK-SBMPTN Surabaya Keluhkan Syarat Rapid Test, Waktu Terlalu Mepet
Ilustrasi SBNPTN:. (Foto: Istimewa)

SURABAYA, iNews.idRapid test menjadi syarat bagi peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMTPN). Hal ini Tak hanya pihak kampus, syarat juga disesalkan para calon mahasiswa. Syarat tersebut diumumkan mendadak, hanya tiga hari sebelum ujian.

Para calon mahasiswa sebenarnya memaklumi syarat rapid test tersebut, sebab fungsinya untuk pencegahan penyebaran Covid-19. Hanya saja waktunya terlalu mepet, sehingga mengganggu persiapan ujian.

“Minggu-minggu sebelum ujian, mestinya fokus belajar dan menyiapkan mental. Tetapi, ini menjadi berantakan karena harus pontang-panting rapid test,” kata orang tua calon mahasiswa, Samsul Huda, Sabtu (4/7/2020).

Menurut Samsul, kebijakan rapid test dari Pemkot Surabaya itu baik, tetapi tidak pas. Mestinya, syarat tersebut diumumkan jauh hari, sehingga para calon mahasiswa bisa leluasa untuk mengurus.

“Kalau menadak begini semuanya jadi bingung. Belum lagi, klinik rapid test yang antre,” ujarnya.

Keluhan sama juga disampaikan peserta SBMPTN, Adji. Selain karena waktunya mepet, biaya untuk rapid test juga cukup mahal, hampir Rp300.000.

“Sebenarnya tidak menyusahkan, tetapi waktunya mepet. Sebab, ujiannya tanggal 5 Juli besok,” katanya.

Sementara itu, pantauan iNews.id, sebuah klinik di kawasan Jalan Darmo Surabaya, Dasa Medika sejak kemarin diserbu para peserta SBMPTN. Para calon mahasiswa tersebut antre untuk memastikan bebas Covid-19 sebelum ujian.

Banyaknya antrean calon mahasiswa juga diakui pihak klinik. Mereka terpaksa menambah jumlah rapid test tiga kali lipat dari hari biasanya. Jika biasanya hanya 40 alat rapid test per hari, kini menjadi 120 per hari.

“Sebenarnya kami sudah melakukan rapid test untuk pekerja. Tetapi, karena ada juga calon mahasiswa, maka kami siapkan lebih,” ujarnya.

Diketahui, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini mengeluarkan Surat Edaran (SE) yang mewajibkan rapid test bagi peserta UTBK-SBMPTN. Dalam SE tersebut, calon mahasiswa harus melampirkan hasil nonreaktif rapid test atau swab test negatif. Syarat ini pun disesalkan banyak pihak, termasuk Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.


Editor : Ihya Ulumuddin