Perjuangan Suliyono, Guru Honorer Difabel yang Mengajar Siswa Disabilitas di Jombang

Mukhtar Bagus ยท Senin, 25 November 2019 - 11:32 WIB
Perjuangan Suliyono, Guru Honorer Difabel yang Mengajar Siswa Disabilitas di Jombang
Moh Suliyono, guru honorer difabel dengan kedua tongkatnya saat berjalan di antara anak didiknya untuk mengajar di SLB Muhammadiyah Jombang. (Foto: iNews/Mukhtar Bagus)

JOMBANG, iNews.id – Menjadi seorang guru bukanlah profesi semata, namun sebuah panggilan hidup yang dijalani Mohamad Suliyono (43). Selama 18 tahun dia mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar berstatus tak tetap tanpa keluh kesah, kendati menyimpan sedikit asa agar dapat diangkat menjadi seorang PNS.

Suliyono (43) merupakan penyandang cacat atau difabel yang mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Muhammadiyah di Desa Pulo, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Dengan keterbasan fisik, dia mendidik para siswa disabilitas yang senasib dengan dirinya, dalam mempersiapkan masa depan mereka melalui bekal ilmu dan pendidikan.

Setiap harinya, Suliyono datang ke sekolah untuk mengajar dengan mengendarai sepeda motor. Dia juga harus berkendara sambil memegang dua tongkat yang menjadi kaki ketiganya. Meski sulit, semua pekerjaan dijalaninya ikhlas.

BACA JUGA: Hari Guru Nasional 2019, Wabup Batang: Semoga Mendikbud Bisa Tingkatkan Kesejahteraan Guru

Dia mengaku senang dan bangga dapat mengabdikan diri menjadi seorang guru. Meski gaji guru honorer kecil, hal ini tak menyurutkan semangatnya untuk mencerdaskan para anak didiknya.

Karena itu, selain mengajar, Suliyono juga mengandalkan kemahirannya memperbaiki barang elektronik dengan membuka jasa perbaikan. Selain itu, dia juga menjual dan membeli alat elektronik warga sebagai tambahan pendapatan menyambung hidupnya.

“Selain mengajar, saya juga buka jasa service perbaikan alat-alat elektronik. Alhamdulillah, untuk kebutuhan sehari-hari sampai saat ini bisa terpenuhi,” ujarnya, Senin (25/11/2019).

Dia mengenang, pertama kali mengajar menjadi guru tak tetap pada tahun 2003 silam saat mendapat program sertifikasi dari pemerintah. Ketika itu, gaji yang diterimanya sebesar Rp110.000. Uang itu bahkan tak cukup untuk transportasi. Namun dia tak menyerah dan terus menjalani panggilan hidupnya sepenuh hati.

Bukan tanpa usaha untuk dapat diangkat menjadi PNS. Suliyono mengaku sudah mencoba berkali-kali mengikuti tes ujian namun gagal.

Di momen Hari Guru Nasional, dia tak berharap banyak ke pemerintah. Suliyono hanya ingin agar nasib mereka sebagai guru honorer diperhatikan. Tentunya agar bisa lebih sejahtera dan maksimal dalam menjalankan tugasnya mendidik generasi penerus bangsa.


Editor : Donald Karouw