Pemkot Surabaya Mengaku Sudah Berikan Bantuan untuk Keluarga Bayi Hidrosefalus Sejak Juni 2019

Ihya Ulumuddin ยท Selasa, 03 Desember 2019 - 11:14 WIB
Pemkot Surabaya Mengaku Sudah Berikan Bantuan untuk Keluarga Bayi Hidrosefalus Sejak Juni 2019
Ibu muda di Surabaya diceraikan suami karena anaknya lahir dalam kondisi cacat. (Foto: Sindonews).

SURABAYA, iNews.id – Kisah pilu ibu muda Dian Oktavia (21) dan bayinya sampai di telinga Pemkot (Pemerintah Kota) Surabaya. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Surabaya, Chandra Oratmangon mengatakan Pemkot telah memberikan bantuan sekaligus pendampingan terhadap ibu dan bayinya sejak Juni 2019 lalu.

“Dari awal yaitu sejak Juni 2019 lalu kami sudah lakukan intervensi berupa BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran). Selain itu klien juga sudah didampingi pihak Puskesmas Mojo, baik pendampingan psikologi ibunya maupun perawatan sang bayi,” katanya saat dikonfirmasi pada Selasa (3/12/2019).

Sebelumnya diketahui Dian dan sang bayi tinggal di rumah kontrak kecil seluas dua kali enam meter di Jalan Jojoran, Kelurahan Airlangga, Kecamatan Gubeng, Surabaya. Pemkot Surabaya sudah mengetahui hal tersebut melalui kegiatan pendampingan.

Dari hasil pendampingan tersebut Chandra mengatakan Dian pernah digigit tikus hingga dua kali dan berdarah. Dian kemudian langsung berobat ke dokter dan diberi obat Sidiadryl. Setelah itu tidak ada keluhan apapun.

“Saat usia kehamilan enam bulan, klien memeriksakan kandungannya ke dokter dan bayi dalam kandungannya didiagnosis terkena penyakit Hidrosefalus. Tapi dokter tidak berani menginjeksi obat dan hanya memberi vitamin untuk bayi di dalam kandungan,” katanya.

Kemudian pada saat usia kandungan bulan ketujuh, Dian mengalami kontraksi palsu dan dibawa ke UGD (Unit Gawat Darurat) RSU (Rumah Sakit Umum) Dr Soetomo dan menjalani rawat inap selama tiga hari. Fisik bayi Dian kemudian diketahui tidak sempurna di bagian kepala dan wajah, khususnya hidung serta bibir usai mendapatkan fasilitas USG (ultrasonografi). Selanjutnya Dian melahirkan anak di usia delapan bulan melalui operasi sesar dengan kondisi fisik bayi yang tidak sempurna.

Chandra mengatakan bayi Dina tersebut sudah menjalani operasi VP Shunt di bagian kepala dengan menggunakan fasilitas BPJS PBI. Chandra menjelaskan Dian dan bayinya juga telah menerima berbagai bantuan dari Pemkot Surabaya. Pertama yaitu bantuan berupa pengurusan KK (Kartu Keluarga) anaknya dari kecamatan setempat.

“Lalu sejak Oktober kemarin teman-teman Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya menyalurkan bantuan berupa PSR (personal social responsibility) atau hasil urunan dari pegawai di lingkungan Pemkot serta bantuan susu khusus untuk nutrisi anaknya dan neneknya juga sudah mendapat program bantuan makanan. Pemkot Surabaya melalui Dinas Sosial telah memberi bantuan berupa PKH (Program Keluarga Harapan),” katanya.

Chandra menjelaskan Pemkot Surabaya sudah memberikan tawaran tempat tinggal berupa rumah susun atau rusun kepada Dian dan bayinya. Namun rencana itu belum terlaksana karena mereka sudah mendapat bantuan tempat tinggal rusun dari pihak Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

“Jadi, sejak bulan Juni sebenarnya sudah kita lakukan intervensi. Mereka juga sudah diberikan bantuan PSR mulai bulan Oktober,” ujarnya.

Chandra mengaku Pemkot Surabaya akan terus memberikan pendampingan kepada ibu dan sang bayi. Pemkot Surabaya telah menyiapkan bantuan pemberdayaan ekonomi untuk kelangsung hidup Dian dan bayinya ke depan.

“Supaya ibunya punya kekuatan ekonomi untuk penghasilan kami akan terus mendampingi. Kami ingin klien bisa berdagang memanfaatkan kemajuan teknologi,” kata Chandra.


Editor : Rizal Bomantama