get app
inews
Aa Text
Read Next : Pertempuran Tegal dan Cilacap, Jejak Perlawanan ALRI Terhadap Agresi Militer Belanda 1947

Pembelaan Inggit Saat Soekarno Dituding Memohon Ampun kepada Belanda

Selasa, 14 Juni 2022 - 22:00:00 WIB
Pembelaan Inggit Saat Soekarno Dituding Memohon Ampun kepada Belanda
Presiden Soekarno. (Foto IG PDIP).

SURABAYA, iNews.id - Presiden Soekarno atau Bung Karno pernah dituding berusaha meminta ampun Kolonial Belanda saat dibui di penjara Sukamiskin, Bandung (1929-1931). Melalui surat-suratnya Bung Karno disebut bersedia melakukan apa saja, termasuk meninggalkan gelanggang politik, asal Belanda menghentikan hukumannya.

Tudingan yang menggegerkan sekaligus menimbulkan polemik cukup panjang itu muncul dalam opini media massa tahun 1980 yang ditulis Rosihan Anwar. Sumbernya yakni buku Road To Exile: The Indonesian Nationalist Movement, 1927-1934 (Jalan ke Pembuangan-Gerakan Nasionalis Indonesia, 1927-1934) karya sarjana Australia Dr John Ingleson. 

Ingleson menyuguhkan cerita dengan mengutip salinan surat Bung Karno yang ditujukan kepada Jaksa Agung Hindia Belanda. Empat lembar surat yang isinya diungkap itu tersimpan dalam arsip Belanda dan terdaftar sebagai Laporan Pos Rahasia 1933/1276. Tudingan Bung Karno bertekuk lutut itu mengundang reaksi sejumlah tokoh intelektual Indonesia.

Salah satunya datang dari Mahbub Djunaidi, seorang sastrawan, jurnalis, sekaligus Ketua Umum PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) pertama (1960-1967). Dia meragukan keaslian surat-surat Bung Karno, dan karenanya perlu dilakukan pemeriksaan sehingga diperoleh kebenaran yang sebenarnya.

"Apakah surat-surat itu otentik? Apakah bukan ciptaan kaum intel yang sering punya bakat besar mengarang kisah fiktif ? Pabrik cerita-cerita macam begitu memang kadang-kadang diperlukan untuk tujuan tertentu," kata Mahbub Djunaidi seperti dikutip dari buku "Bung Karno Antara Mitos Dan Demitologi".    

Sebagai perbandingan, Mahbub Djunaidi memberi contoh ulah intel Belanda saat berlangsungnya sidang terakhir Kongres NU di Surabaya tanggal 19 Oktober 1927. Intel Belanda itu diperintahkan menyusup sekaligus membuat catatan yang lantas disimpan di Koloniaal Archief Geheim Mailrapport 261/X/28.

Isi catatan itu juga diragukan kebenarannya sebagaimana yang disebut surat minta ampun Soekarno kepada Jaksa Agung Belanda. "Betulkah ada pembicara dalam kongres itu yang berkata: Mereka yang menyalahgunakan Agama untuk urusan politik, pantas dibuang saja ke Digul, habis perkara?," kata Mahbub Djunaidi.   

Keraguan akan keaslian empat surat Bung Karno tertanggal 30 Agustus, 7, 21 dan 28 September 1933 itu juga datang dari Anwar Luthan, seorang pensiunan pejabat tinggi Departemen Penerangan RI. Menurutnya banyak hal penting yang perlu mendapat jawaban jelas sehingga kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan.

"Taruhlah bahwa memang betul Soekarno menulis surat-surat macam itu, masih perlu dipertanyakan, kenapa Pemerintah Hindia Belanda tidak mempublikasikan surat-surat itu?,” katanya. Fakta sejarah mencatat, Bung Karno tidak mendapat pembebasan dari pemerintah Hindia Belanda. Begitu bebas dari vonis 4 tahun penjara yang dipotong menjadi 2 tahun, ia kembali giat dalam pergerakan kemerdekaan.

Bahkan sebelum ditangkap kembali pada Maret 1933 di Pengalengan selatan, Bandung, Bung Karno telah menyiapkan risalah "Mencapai Indonesia Merdeka". Pada kata pengantar risalah tertulis dengan tegas: Hanya rakyat yang mau merdeka, bisa merdeka. Risalah itu ditulis setelah Bung Karno setelah keliling ke Jawa Tengah dengan tujuan membangkitkan semangat rakyat.

Anwar Luthan menarik kesimpulan, surat-surat Bung Karno kepada Jaksa Agung pemerintah Kolonial Hindia Belanda itu, tak lain sebagai taktik yang bertujuan menjatuhkan belaka. Sebab setelah itu Bung Karno faktanya tetap diasingkan. "Kenapa toh Soekarno diasingkan ke Ende, Flores? Kenapa tidak dibebaskan saja?," katanya.  

Mohammad Roem, mantan Menteri Luar Negeri dan mantan Wakil Perdana Menteri era Orde Lama juga mempertanyakan keaslian surat-surat Bung Karno tersebut. Dia ragu Soekarno sendiri yang menulis atau mengetik surat-surat itu. Di sisi lain ia juga menemukan beberapa kesalahan dalam bahasa Belanda yang digunakan.

"Karena itu hendaknya dicari surat-surat Bung Karno yang asli, agar dapat diperiksa, apakah benar surat itu dengan tanda tangannya dapat dipertanggungjawabkan kepada Bung Karno sendiri," kata Moh Roem seperti dikutip dari buku “Bung Karno Antara Mitos Dan Demitologi".

Polemik yang menggegerkan itu mendapat reaksi keras dari Inggit Garnasih, istri kedua Bung Karno yang berkomunikasi intens dengan Bung Karno selama Proklamator RI itu dipenjara di Sukamiskin. Saat itu 27 September 1980, dan Bu Inggit sudah berusia 94 tahun. Ia ditemui Mahbub Djunaidi di rumahnya Jalan Ciateul No.8 Bandung.

Begitu Mahbub Djunaidi membantu membacakan tulisan yang menuding Bung Karno meminta ampun kepada Kolonial Belanda, wajah Bu Inggit seketika mengeras. Dalam buku "Bung Karno Antara Mitos Dan Demitologi" dituliskan, Bu Inggit sontak memperlihatkan sorot mata tajam dan kuat.

Dia tidak mempercayai tulisan itu. Bagi Kus, kata Bu Inggit yang lebih suka memanggil Bung Karno dengan Kusno, sikap meminta maaf kepada penjajah merupakan pamali. Bu Inggit dengan suara tegas menyatakan sama sekali tidak mempercayai kabar itu. Hal itu mustahil terjadi.

"Itu omongan aneh! Baru sekarang ini ibu dengar! Ini bininya, tidak akan main selingkuh. Tidak akan ada yang disembunyikan. Jangan menulis yang semau-maunya," kata Bu Inggit. Inggit Garnasih juga menceritakan bagaimana saat besluit pembuangan ke Ende, Flores turun, Bung Karno bertanya kepadanya apa bersedia ikut.

Menurut Inggit, sebagai istri dirinya tidak akan mengecewakan Bung Karno dan karenanya menyatakan tegas ikut mendampingi. Ia menjunjung Bung Karno. Inggit ingin melihat Bung Karno senantiasa bersikap sebagai ksatria. "Kusno itu lelaki langlanging jagad,” kata Bu Inggit. "Sayang Mr Sartono sudah meninggal, dia tahu persis apa yang sebenarnya terjadi," katanya.

Editor: Ihya Ulumuddin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut