Pedangan Kaki Lima di Mojokerto Ricuh saat Razia Satpol PP

Sholahudin ยท Kamis, 09 April 2020 - 18:47:00 WIB
Pedangan Kaki Lima di Mojokerto Ricuh saat Razia Satpol PP
Salah satu PKL di Mojokerto yang enggan direlokasi meski sudah berjualan di trotoar jalan. (Foto: iNews/Sholahudin)

MOJOKERTO, iNews.idRazia Pedagang Kali Lima (PKL) yang dilakukan petugas Satpol PP di Mojokerto, Jawa Timur (Jatim) ricuh, Kamis (9/4/2020). Pedagang menolak dipindahkan bahkan mengusir para petugas.

Sebanyak 43 PKL di Jalan Niaga, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini enggan direlokasi. Selain di tempat baru, dagangan belum tentu laku, mereka juga merasa tidak berdagang di atas saluran air seperti yang dikatakan petugas.

Video kericuhan ini pun sempat direkam oleh warga. Tak ingin kondisi makin ricuh, petugas akhirnya mengalah dan meninggalkan lokasi.

Salah satu PKL, Samiati mengatakan mereka berjualan tidak di atas saluran air, melainkan di trotoar. Selain itu, dia merasa para pedagang hanya berjualan setengah hari.

“Kami jualan sudah setengah hari saja, jam 13.00 WIB sudah bersih,” katanya.

Sumiati juga mengatakan KTP suaminya dibawa petugas Satpol PP dengan alasan pendataan. Dia juga mengaku sebelumnya petugas Satpol PP sudah melakukan sosialisasi terkait adanya relokasi pedagang kali lima.

Dari informasi yang dihimpun, petugas sudah melakukan sosialisasi dilakukan sebanyak dua kali terkait relokasi PKL. Lokasi baru bagi PKL ini yakni Pasar Kliwon dan Pasar Prajurit Kulon.

Kericuhan ini dibantah oleh Kasat Pol PP Kota Mojokerto, Heryana Dodik Murtono. Dia mengatakan razia Kamis siang bertujuan untuk monitoring dan bukan penertiban.

“Tidak ada kericuhan, hanya sosialisasi dan memastikan mereka sudah pindah. Tidak ada pengangkutan barang dagangan,” katanya.

Heryana menambahkan, sebanyak 64 PKL ini sebelumnya juga telah diberi sosialisasi sekaligus bermusyawarah dengan melibatkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperidag). Mereka rencananya akan direlokasi karena berdagang di trotoar dan badan jalan, sehingga pejalan kaki tak dapat memanfaatkan fasilitas tersebut.


Editor : Umaya Khusniah