get app
inews
Aa Text
Read Next : Gunung Slamet Berpotensi Erupsi Tiba-Tiba, Warga 5 Kabupaten Diminta Waspada

Pascaerupsi 2 Hari, Gunung Bromo Dinyatakan Aman bagi Wisatawan

Rabu, 20 Februari 2019 - 20:24:00 WIB
Pascaerupsi 2 Hari, Gunung Bromo Dinyatakan Aman bagi Wisatawan
Kawah Gunung Bromo, masih mengeluarkan asap putih pekat setinggi 700 meter. Namun, sudah tidak disertai dengan abu vulkanik. (Foto: Sindonews/Yuswantoro)

PROBOLINGGO, iNews.id – Kendati baru saja mengalami erupsi beberapa hari lalu, kawasan Wisata Gunung Bromo, telah dinyatakan aman bagi wisatawan. Saat ini, kawah Gunung Bromo masih mengeluarkan asap putih tebal, namun sudah tidak disertai dengan semburan abu vulkanik, seperti yang terjadi dalam dua hari terakhir.

Para wisatawan, dan warga di kawasan tersebut, juga masih dengan leluasa beraktivitas menikmati keindahan gunung dengan ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.

"Mulai hari ini sudah tidak muncul semburan abu vulkanik," terang Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pos Pengamangatan Gunung Apri Bromo, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Wahyu Andrian Kusuma, Rabu (20/2/2019).

Dia menyebutkan, semburan abu vulkanik teradi selama dua hari. Yakni Senin (18/2/2019) hingga Selasa (19/2/2019). Saat ini, dari hasil pantauan visual masih muncul asap putih pekat.


Selain asap putih pekat yang keluar dari kawah, juga tercium aroma belerang ringan. Tidak ada suara gemuruh dari kawah. Kondisi cuaca di kawasan tersebut, sering turun hujan dan diselimuti awan.

Wahyu menyebutkan, terjadi gempa tektonik jauh sebanyak delapan kali dengan amplitudo 3-30 mm. Durasinya selama 74-245 detik. "Untuk gempa tremor, terekam dengan amplitudo 0,5-1 mm, dominan di 1 mm," terangnya.

Hingga saat ini, tingkat aktivitas vulkanik Gunung Bromo, berada pada status waspada atau level II. Masyarakat dan wisatawan masih diperbolehkan untuk berwisata, dengan radius aman 1 km dari kawah aktif Gunung Bromo.

Para wisatawan juga dihimbau untuk menyiapkan masker, dan kaca mata untuk berjaga-jaga terhadap adanya hujan abu vuklkanik yang bisa menganggu pernafasan dan bisa menyebabkan iritasi pada mata.

Gunung Bromo, menurutnya memiliki karakteristik kegempaannya dominan tremor. Apabila terjadi erupsi, material vulkaniknya dominan abu, lapili atau kerikil, dan bom vulkanik atau lava pijar.


"Gunung Bromo, selama ini tidak mengeluarkan awan panas, karena tipenya kaldera. Berbeda dengan Gunung Merapi atau Gunung Gamalama yang mengeluarkan awan panas," terangnya.

Menurutnya, berdasarkan kejadian-kejadian sebelumnya, dampak letusan Gunung Bromo adalah terganggunya tanaman pertanian milik para petani akibat terkena abu vulkanik.

Sementara, masyarakat di wilayah Gunung Bromo, belum merasakan adanya dampak yang ditimbulkan akibat erupsi gunung dengan pemandangan eksotis tersebut.

Belum adanya dampak yang dirasakan warga, juga dibenarkan oleh Kepala Seksi Pembangunan Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Edi Wardoyo.

Menurutnya, erupsi Gunung Bromo tidak berdampak pada masyarakat. Kondisi yang sama, juga dirasakannya bersama warga saat terjadi erupsi Gunung Bromo, pada tahun 2010, 2011, 2015, dan 2016 silam.

Warga masih beraktivitas seperti biasa. Mereka bercocok tanam di ladang, tanpa terpengaruh oleh erupsi tersebut. "Semua dalam kondisi aman, dan normal. Saya juga masih pergi ke ladang untuk merawat tanaman," tuturnya.

Editor: Himas Puspito Putra

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut