Nenek di Jember Buat Laporan Palsu dengan Mengaku Jadi Korban Pemerkosaan

Bambang Sugiarto ยท Sabtu, 11 Januari 2020 - 14:38 WIB
Nenek di Jember Buat Laporan Palsu dengan Mengaku Jadi Korban Pemerkosaan
Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal saat memberikan keterangan terkait kasus laporan palsu seorang nenek. (Foto: iNews/Bambang Sugiarto)

JEMBER, iNews.id - Seorang nenek di Jember, Jawa Timur (Jatim) membuat laporan palsu jika dirinya menjadi korban pemerkosaan. Polisi menemukan beberapa kejanggalan saat olah TKP. Setelah didesak, nenek akhirnya mengaku jika dirinya mencoba bunuh diri karena utang.

Sumintuk (65), warga Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember akhirnya diamankan polisi ke Mapolres Jember karena tuduhan memberikan keterangan palsu. Awalnya dia mengaku diperkosa padahal sebenarnya, pelaku mencoba bunug diri.

Kapolres Jember, AKBP Alfian Nurrizal mengatakan peristiwa ini bermula pada Rabu (4/12/2019) lalu, pelaku ditemukan tergeletak di rumah dengan luka sayat di leher. Pada awal kejadian, pelaku mengaku telah menjadi korban pemerkosaan.

Jajaran Satreskrim Polres Jember langsung melakukan proses penyelidikan atas peristiwa nahas yang dialami pelaku. Namun di tengah proses penyelidikan, polisi merasa ada kejanggalan dalam kasus ini.

BACA JUGA: Dulu Tersangka Keterangan Palsu, Miryam Haryani Kini Terjerat Korupsi E-KTP

Salah satunya, bercak darah korban yang hanya menetes ke arah bawah leher. Semestinya, jika memang diperkosa, darah akan berceceran ke beberapa bagian tubuh lain dari pelaku.

“Artinya saat itu, nenek tersebut ada dalam posisi duduk,” katanya saat ekspos kasus di Mapolres Jember, Jumat (10/1/2020).

Selain dari kejanggalan tersebut, dari hasil visum, polisi tidak menemukan adanya bekas kekerasan di organ vital pelaku. Dari situ, polisi terus melakukan penyelidikan hingga menginterogasi kembali nenek tersebut.

BACA JUGA: Hakim MK Peringatkan Saksi Berikan Keterangan Palsu Terancam Penjara 7 Tahun

Pelaku akhirnya mengakui jika dirinya sengaja melakukan percobaan bunuh diri dengan menyayatkan pisau dapur pada bagian leher lantaran punya utang sebesar Rp10 juta.

“Saya bingung karena utang untuk makan, saya minta maaf ya, saya menyesal,” katanya.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat pasal 220 KUHP dengan ancaman maksimal satu tahun empat bulan penjara. Lantaran ancaman hukumannya di bawah lima tahun, polisi tidak melakukan penahanan badan terhadap tersangka namun hanya dikenakan wajib lapor.


Editor : Umaya Khusniah