Mahasiswa Bakar Jas Almamater saat Demo, Unesa Bentuk Tim Komisi Disiplin

Ihya Ulumuddin ยท Senin, 16 Maret 2020 - 14:01 WIB
Mahasiswa Bakar Jas Almamater saat Demo, Unesa Bentuk Tim Komisi Disiplin
Sejumlah mahasiswa Unesa melakukan aksi anarkistis dengan membakar jas almamater, Jumat (13/3/2020). (Foto: iNews.id/Ihya' Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id - Universitas Negeri Surabaya (Unesa) akan bertindak tegas terkait aksi vandalisme dan anarkistis sejumlah mahasiswa saat menggelar aksi menolak pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Saat ini, pihak kampus bahkan telah membentuk komisi disiplin (komdis) untuk mengusut aksi tak terpuji mahasiswa tersebut.

"Unesa telah membentuk tim komisi disiplin. Tim bertugas melakukan penelusuran dan memberikan sanksi kepada mahasiswa yang jelas-jelas melakukan pelanggaran," kata Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Unesa, Bambang Sigit Widodo, Senin (16/3/2020).

Bambang menambahkan, tim komisi disiplin yang dibentuk Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unesa, Agus Hariyanto dan melibatkan seluruh Wakil Dekan III di lingkungan Unesa, saat ini tengah mengumpulkan barang bukti.

Bukti tersebut di antaranya dari hasil foto, CCTV, maupun rekaman video. Tim juga telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian jika aksi mahasiswa tersebut ada unsur pidananya.

"Namun demikian, kami tetap menerapkan asas praduga tak bersalah dan sanksi pembinaan. Bagaimana pun mereka anak-anak kami," ujar Bambang.

Salah seorang pengurus pusat Ikatan Keluarga Alumni (IKA Unesa), Agung Stiawan ikut menyayangkan aksi mahasiswa yang berujung ricuh di kampus. Sebagai insan terpelajar, mahasiswa tidak perlu bertindak vandalisme dan anarkistis hingga membakar jas almamater.

"Itu sudah menyinggung harga diri kami selaku alumni Unesa. Kami sangat bangga dengan almamater, alumni kami tersebar di seluruh Indonesia dengan berbagai profesi dan semuanya mengutuk tindakan tersebut," ujarnya.

Agung ingin pihak kampus mengusut tuntas perusakan itu. Bahkan, sangat pantas jika pelaku medapat sanksi yang berat. "Kami juga siap membantu Unesa untuk mengusutnya," ujar Agung.

Diketahui, pada Jumat (13/3/2020), puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan diri Aliansi Mahasiswa Peduli Demokrasi Kampus (AMPDK) berdemo di depan Gedung Rektorat Unesa, Jalan Lidah Wetan, Lakarsantri, Surabaya.

Massa aksi menuntut pihak kampus agar membatalkan pelantikan BEM Unesa hasil pemilu raya (Pemira) pada 24 Februari 2020. Mereka beralasan pelantikan tidak sesuai dengan ketetapan Komisi Pemilihan Umum Raya (KPUR).

Pemira diikuti dua pasangan calon, yakni M Satria Artha W-Agung Alaska (nomor urut 1) dan Moch Badrus Sholeh-Dimas Alif Purnama Aji (nomor urut 2). Badrus-Dimas akhirnya dilantik sebagai ketua dan wakil BEM.

Tak hanya menolak, dalam aksinya massa mencoret-coret lantai dan pintu kaca gedung rektorat dengan kata-kata yang tak pantas, merusak pintu rektorat hingga membakar jas almamater.

Pembina Kemahasiswaan Unesa, M Farid Ilhamnudin mengakui jika sebelumnya ada polemik karena penetapan pengurangan suara 25 persen KPUR dinilai tidak merujuk pada UU yang telah dibuat mahasiswa sendiri. Pasal yang dijadikan penetapan, yakni Pasal 37 ayat 5. Sementara sanksi mengacu pada pasal 62 ayat 3 yang terkait dengan pengurangan suara 25 persen.

Menurut Farid, pasal ini menjelaskan ada pengurangan suara 25 persen jika ada pelanggaran yang dilakukan peserta Pemira. Sementara di pasal 1 ayat 9 UU Pemira dijelaskan yang dimaksud peserta Pemira adalah calon anggota MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa), calon ketua dan wakil ketua BEM yang telah ditetapkan KPUR.

"Faktanya tidak ada gugatan apa pun terkait dengan peserta Pemira. Memang pelaksanaan Pemira berjalan aman, lancar dan kondusif," katanya.

Farid menegaskan, SK Rektor mengenai pelantikan BEM sudah final. Sebelum memutuskan pengurus BEM yang baru, rektor juga telah meminta wakil rektor III untuk mengkaji, melibatkan ahli hukum administrasi dan tata negara sehingga hasilnya objektif.


Editor : Maria Christina