Khofifah Teteskan Air Mata saat Nyanyikan Mars PMII

Ihya Ulumuddin ยท Selasa, 26 Desember 2017 - 01:30 WIB
Khofifah Teteskan Air Mata saat Nyanyikan Mars PMII
Mensos Khofifah Indar Parawans menerima prasasti dari pengurus PMII di Bangkalan, Madura, Jatim. (Foto: ist)

BANGKALAN, iNews.id – Pengalaman menjadi aktivis Pergerakan Mahasisa Islam Indonesia (PMII) benar-benar membekas di benak Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Setiap kali melihat jaket atau mendengar lagu keberasaran PMII, memori puluhan tahun itu kembali muncul dan membuatnya mengharu biru.

Pemandangan itu pula yang terjadi kala Ketua Umum PP Muslimat NU itu menjadi keynote speaker pada Pelatihan Kader Lanjut (PKL) PMII se-Jatim di Bangkalan, Minggu (24/12/2017). Saat mars PMII dinyanyikan, air mata Khofifah menetes.

“Setiap saya bersama-sama PMII dan menyanyikan mars, saya selalu meneteskan air mata. Jas (biru) inilah yang membesarkan saya. Membangun fighting spirit saya. Dulu, saya ketua PMII Surabaya sekaligus merangkap ketua IPPNU, tapi spirit saya dibangun oleh PMII,” tandasnya yang disambut aplaus peserta pelatihan.

Karena itu, ketika almaghfurlah KH Hasyim Muzadi menjadi ketua umum PBNU, Khofifah meminta agar PMII dilibatkan di setiap pleno PBNU. “Supaya mengerti bahwa akar PMII itu dari Nahdlatul Ulama,” kata perempuan yang pernah menjabat Ketua PB Korps PMII Putri ini.

Dalam terminologi “sahabat”, Khofifah mengibaratkan PMII adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib: Progresif, tampil di depan, pemberani dan intelek. Karena itu, kader PMII harus tangguh dan berkualitas.

“Sikap pemberani dan fight spirit dibutuhkan NU dan bangsa ini, maka bangunan pelatihan-pelatihan di PMII harus membangun fighting spirit. Tanpa spirit orang tidak punya harapan dan upaya berjuang menjadi lemas,” ujarnya.

Bagi Khofifah, PMII harus independen. Tetapi akar NU jangan sampai tercerabut. Karena itu, PMII jangan pernah memberi ruang untuk kelompok Syiah, Wahabi maupun Salafi. “Di sini harus menjadi bangunan moderasi umat Islam yang menjadi payung dari referensi seluruh dunia. Maka jangan pernah melihat kita cuma PKL di Bangkalan, oh tidak!” tandasnya.

Sebab, lanjut Khofifah, NU dibutuhkan bukan sebatas untuk memagari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tetapi melindungi umat Islam dunia, terutama kelompok Sunni. “85% umat Islam di dunia itu Sunni. Tapi apa yang terjadi hari ini, lihatlah saudara kita di Yaman kocar-kacir. Lihat pula saudara Sunni kita di Syria, Irak, Somalia dan beberapa negara lainnya,” katanya.

Situasi itu membuat Islam di Indonesia menjadi referensi dan payung Islam di dunia. “Sunni dunia referensinya adalah Islam di Indonesia, dan Islam di Indonesia orang akan melihat NU,” ucapnya.

Bukan lagi meributkan bernegara, berbangsa, bermerah putih karena bagi NU hal-hal mendasar tentang nasionalisme sudah selesai. “Sekarang yang perlu kita lakukan adalah mengisi bagaimana menjadi payung bagi seluruh keberagaman warga bangsa,” paparnya.

Namun upaya ini harus diikuti kualitas kader PMII. “Sehingga ketika berkontestasi dengan kader lain, kita memang unggul. Keunggulan kompetitif dan komparatif harus ada pada diri kita,” ujarnya.

Jati diri ini, kata Khofifah, perlu dibangun dan dikuatkan karena kader PMII dihadapkan pada dua pilihan: Menyemai nilai-nilai moderasi maupun toleransi, atau menyemai sesuatu yang bersifat provokatif, mengadu domba dan memecah bela bangsa.

“Maka pilihan kita adalah menyemai nilai-nilai moderasi, toleransi yang akan menjadi pagar bagi NKRI dan itulah NU sekaligus inilah pentingnya kita beroganisasi,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki