Jarwo dan Vera, Mantan PSK Dolly yang Sukses Jadi Pengusaha Tempe

Ihya Ulumuddin · Selasa, 24 Oktober 2017 - 17:41:00 WIB
Jarwo dan Vera, Mantan PSK Dolly yang Sukses Jadi Pengusaha Tempe
Jarwo Susanto sedang memindahkan kedelai yang sudah dicuci untuk direbus dan dibungkus menjadi tempe. (Foto:iNews.id/Ihya' Ulumuddin)

SURABAYA - Selalu ada jalan di tengah situasi sulit. Kuncinya tetap berusaha dan berdoa. Hikmah itu pula yang dirasakan Vera dan suaminya, Jarwo Susanto, warga Kupang Gung Gang 2 Kelurahan Putat Jaya, Surabaya, Jawa Timur.

Sempat menjadi buron polisi karena menolak penutupan Lokalisasi Dolly, kini pujian justru datang silih berganti. Semua berkat kesuksesannya merintis usaha tempe. Vera dan Jarwo menutup lembaran hitam di dunia prostitusi dan bangkit menjadi wirausahawan mandiri.

Motor bebek Vera (bukan nama sebenarnya) berhenti pelan di rumah nomor tujuh, saat matahari masih sepenggalah. Di ujung teras, Jarwo menyambut dengan senyum. Jarwo mendekat, lalu menurunkan karung ukuran 25 kg dari jok belakang. “Langsung tak bongkar saja ya,”seru Jarwo disambut anggukan pelan Vera. 

Setiap pagi buta, istri Jarwo Susanto ini harus bergegas ke pasar untuk membeli kedelai. Meski mata menahan kantuk, dia harus tetap berangkat lebih awal agar pesanan kedelai di Pasar Pabean tidak dibeli orang. Dengan begitu, produksi tempe tidak berhenti.

Pergi ke pasar membeli bahan baku tempe menjadi tugas Vera setiap pagi. Sementara Jarwo harus berkeliling kampung dan pasar, menjajakan tempe yang sudah jadi.

“Kita memang harus berbagi tugas agar proses produksi tempe tidak terganggu. Pagi-pagi saya jualan tempe, sementara istri ke pasar membeli kedelai untuk persiapan produksi esok hari,” tuturnya.

Maklum saja, Jarwo belum memiliki karyawan. Sehingga semua aktivitas produksi tempe dikerjakan bersama istri. Kemarin, misalnya, saat lelah belum sirna, rendaman kedelai dalam tiga bak besar sudah menunggu. Kedelai yang sudah digiling itu harus dipisahkan dari kulit ari yang menempel. Sehingga bisa segera dibersihkan dan diproses menjadi tempe.

“Capek mas, wong sejak subuh kami belum berhenti. Walau begitu, kami senang dan puas menjalaninya. Apalagi kalau semua dagangan habis. Merdeka rasane,” ungkapnya.  

Sudah hampir tiga tahun, rutinitas baru itu mereka jalani. Penutupan lokalisasi Dolly memaksa keduanya memutar otak untuk menjaga asap dapur tetap ngebul. Membuka warung seperti dulu sudah tidak memungkinkan lagi. Apalagi, ikut mengais rezeki dari bisnis prostitusi.

Jarwo dan Vera memang sempat berjaya saat lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu buka. Jarwo sibuk melayani pesanan kopi pengunjung wisma. Sementara Vera memanen rupiah dengan menjadi wanita harapan di sana. Vera menjadi salah satu PSK (penjaja seks komersial) di Wisma Permata. Sementara Jarwo membuka usaha warung di depan wisma.

“Dulu uang saya banyak mas. Sehari bisa pegang Rp1 juta. Apalagi kalau malam minggu, hasilnya bisa berlipat sampai Rp2 juta. Tetapi begitu kenal Mas Jarwo saya memutuskan berhenti. Saya pilih bantu suami jual kopi saja,” kenang Vera.

Pilihan Vera untuk berhenti menjadi PSK dan menikah dengan Jarwo memang tidak mengecewakan. Sebab, saat itu hasil usaha warung juga lumayan besar. Dalam sehari misalnya, mereka bisa mendapat uang Rp1 juta sampai Rp1,5 juta.

Namun, malang tidak bisa dibendung. Pemerintah Kota Surabaya memutuskan lokalisasi ditutup. Sehingga usaha warung pun ikut bangkrut. Tak heran, Jarwo berontak. Bersama dengan pemilik wisma, PSK dan warga terdampak dia melayangkan protes menolak penutupan lokalisasi itu.

Pada aksi kontra itu, Jarwo terbilang gigih. Dia menggalang kekuatan bersama dengan para pemilik usaha di sekitar wisma untuk membatalkan rencana itu. Sampai-sampai dia diburu oleh aparat kepolisian, karena dianggap sebagai provokator. Jarwo menjadi buron.

Lebih dari sebulan Jarwo sembunyi. Dia pergi berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran polisi. Sampai akhirnya memutuskan menetap di rumah saudaranya di Sidoarjo. Rupanya, di tempat inilah peluang Jarwo muncul kembali. Jarwo belajar membuat tempe, sesuai arahan saudara.

“Saya nekat saja. Melihat penutupan lokalisasi tidak bisa dibendung, saya ikut saja arahan kakak saya. Saya masih ingat betul. Pulang dari Sidoarjo saya diberi bekal kakak 3 kg kedelai untuk dijadikan tempe. Ternyata percobaan saya berhasil. Saat itu juga saya putuskan menekuni bisnis ini,” katanya kepada iNews.id, Selasa (24/10/2017).

Lima bulan lamanya Jarwo dan Vera jatuh bangun menenkuni usaha baru itu. Dari mulai modal cekak, tempe yang tidak laku hingga tenaga yang kurang.

“Saya sempat putus asa mas. Apalagi saat itu semua harus dikerjakan manual. Saya harus mengupas kedelai dengan tangan dan kaki. Karena tidak bisa membeli alat giling,”katanya.

Tetapim semangat untuk bangkit, membuatnya bertahan. Hingga akhirnya ada pelatihan UKM dari kecematan. Lewat pelatihan itulah, Jarwo dan Vera mengutarakan keinginannya memiliki alat giling kedelai.

“Saya minta Pak Camat dan disetujui. Akhirnya berjalan sampai sekarang,” tuturnya.

Dari situlah, bisnis tempe Jarwo perlahan bangkit. Dari semula 3 kg kedelai, kini mereka bisa memproses kedelai hingga 20 kg/hari. Hasilnya cukup menggembirakan, untuk 1 kg kedelai misalnya, Jarwo bisa memproduksi tempe hingga 20 bungkus. “Saya jual Rp1.000/bungkus. Jadi sekarang rata-rata tiap hari saya bisa dapat uang Rp300.000-350.000,” tuturnya.

Jarwo mengakui, program pendampingan Pemkot Surabaya melalui program Pahlawan Ekonomi (PE) telah menguatkan industri rumahan yang dijalani. Selain mendapat bantuan alat, dia juga mendapatkan akses pemasaran hingga kursus tentang kualitas produk.

“Dari pelatihan PE itu kami jadi sering diikutkan pameran. Bahkan kami juga sering diundang menjadi motivator untuk UKM-UKM pemula di berbagai kota. Kami biasanya diminta memberikan testimoni. Dari mulai masih aktif ikut di bisnis prostitusi hingga berubah ke indusri mandiri seperti saat ini,” tutur mereka kompak.

Perjalanan itu benar-benar membahagiakan mereka berdua. Kini mereka bebas dari buron polisi dan stigma negatif sebagai penggerak bisnis prostitusi. Sebaliknya, ada banyak acungan jempol yang disematkan kepada mereka.

“Saya bangga sekali mas. Apalagi kalau pas pameran. Bu Wali Kota dan Bu Menteri yang hadir, membeli dan memuji produksi tempe saya,” katanya.

Ya, pascapenutupan 2014 lalu, bekas kompleks Lokalisasi Dolly memang sering menjadi jujugan tamu-tamu penting. Dari mulai perguruan tinggi, pengusaha hingga pejabat negara. Semua ingin melihat semangat warga di bekas kawasan merah ini bangkit dan menapaki kehidupan baru.

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bappemas-KB) Nanis Chaerani mengatakan, Pemkot Surabaya memang memberi kesempatan besar bagi warga eks lokalisasi untuk mandiri. Tujuannya, mereka bisa kembali bangkit dan optimistis meski lokalisasi telah tutup.

“Ada program Pahlawan Ekonomi (PE) yang digagas Pemkot Surabaya. Lewat program inilah warga bisa belajar tentang UKM lengkap dengan pengembangannya,” tandas mantan Kabag Humas Pemkot Surabaya ini.


 

Editor : Kastolani Marzuki

TAG :