Istri Dokter RSUD dr Soetomo yang Meninggal Juga Positif Covid-19

Ihya Ulumuddin ยท Rabu, 10 Juni 2020 - 23:37 WIB
Istri Dokter RSUD dr Soetomo yang Meninggal Juga Positif Covid-19
ilustrasi

SURABAYA, iNews.id – Istri dr Miftah Fawzy Sarengat, dokter yang meninggal akibat Covid-19, ikut terpapar virus corona. Saat ini istri almarhum dirawat di RSUD dr Soetomo Surabaya.

Kabar ini disampaikan Ketua Gugus Kuratif Penanganan Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi. Karena itu, dia memohon doa agar yang bersangkutan segera sembuh. “Istrinya juga positif. Mari kita berdoa agar Tuhan memberikan kesehatan pada istrinya,” kata dr Joni dalam keterangan di Gedung Negara Grahadi, Rabu (10/6/2020).

Joni mengatakan, istri Miftah juga seorang dokter. Dia bertugas di sebuah rumah sakit swasta di Surabaya, tempat Miftah kali pertama di rawat. Namun, Joni tidak mengetahui proses tertularnya istri Miftah tersebut.

Juru bicara RSUD dr Soetomo Pesta Parulian menambahkan, pada awalnya, istri almarhum Miftah tidak ada gejala Covid-19. Namun akhir-akhir ini mulai batuk dan daya tahan tubuhnya menurun. “Mungkin dengan daya tubuhnya turun, batuk-batuknya mulai aktif. Jadi kami perlu memperhatikan jangan sampai kami juga kehilangan,” katanya.

Khusus untuk dr Miftah, kata Pesta, sudah mengalami sakit sejak sepekan lalu. Saat itu, yang bersangkutan mengalami demam hingga gagal napas. Pesta menduga, kondisi almarhum yang cukup gemuk menambah berat infeksi. Apalagi, almarhum juga memiliki penyakit penyerta.

“Ini yang mungkin menjadi faktor yang memperberat infeksinya. Dalam perkembangannya, ternyata daya tahan tubuhnya tidak begitu baik. Sampai gagal napas. Akhirnya kami harus rela melepaskannya,” ujarnya.

Diketahui, Dokter RSUD Dr Soetomo Surabaya dr Miftah Fauzy Sarengat wafat karena Covid-19.

Pejabat Humas PB IDI Abdul Halik Malik mengatakan, dr Fawzy menghembuskan napas terakhirnya Rabu (10/6/2020) pagi tadi WIB di RSUD Dr Soetomo.

Chief of Residen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya ini sebelumnya telah dirawat selama tujuh hari.


Editor : Ihya Ulumuddin