Gus Sholah Luruskan Sejarah, Gus Ipul Bukan Cicit Pendiri NU
SURABAYA, iNews.id - Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Sholahudin Wahid (Gus Sholah) keberatan foto mendiang KH Bisri Syansuri dipasang untuk kepentingan politik. Bagi dia, tidak etis seorang ulama besar seperi Kiai Bisri diseret-seret untuk kepentingan kontestasi. Apalagi yang bersangkutan sudah wafat.
"Sebaiknya tidak usah lah bawa-bawa seseorang yang sudah wafat. Dan mestinya juga tidak bawa-bawa organisasi NU. Tapi kan kita tidak bisa melarang, wong sudah terlanjur seperti ini," kata Gus Sholah, Senin (22/1/2018), menanggapi branding yang dilakukan bakal calon gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) selama ini.
Kendati demikian, Gus Sholah tetap merasa perlu untuk meluruskan sejarah sebagaimana yang dicatut Gus Ipul. Selama ini Gus Ipul selalu mendeklarasikan diri sebagai cicit pendiri NU. Padahal, KH Bisri Syansuri adalah Rais Aam kedua, pengganti KH Wahab Chasbullah. Bukan pendiri jamiyah tersebut.
"Mbah buyutnya Saiful (KH Bisri Syansuri) itu mbah saya. Tokoh NU tetapi bukan pendiri NU. Beliau Rois Aam kedua setelah Mbah Wahab (KH Wahab Chasbullah). Mbah Wahab itulah yang memiliki gagasan dan mendirikan NU." tutur Gus Sholah saat berkunjung ke Posko Pemenangan Khofifah-Emil di Taman Gayungsari Surabaya, Senin (22/1/2018).
Branding "Saifullah Yusuf cicit pendiri NU" memang gencar dibuat ‘jualan’ Saifullah dan tim pemenangannya. Hal ini setelah Bacagub Saifullah Yusuf mengklaim sebagai cicit pendiri NU.
"Mbak Puti adalah cucu langsung Proklamator Bung Karno. Saya sendiri adalah cicit langsung salah seorang pendiri NU, Mbah KH Bisri Syansuri. Lihat, betapa indah Allah membuat skenario untuk kita! Isyaratnya sangat jelas: Kita harus jaga Jawa Timur sebagai bagian sangat penting untuk menjaga Indonesia,” demikian ujar Gus Ipul kepada media, 10 Januari 2018, lalu.
Tak hanya itu, pada branding yang disebar di media sosial, tulisan tersebut juga dibubuhkan. Lengkap dengan foto KH Bisri dan Syansuri dan logo NU. Statement Saifullah ini seolah untuk ‘mencocok-cocokkan antara dirinya dengan nasab bakal Cawagubnya, Puti Guntur Soekarno yang merupakan cucu salah seorang Proklamator RI, Soekarno.
Sebelumnya, bantahan serupa juga dilontarkan putri KH Abdul Wahab Chasbullah, Nyai Machfudhoh. “Kalau cicitnya Kiai Bisri (KH Bisri Syansuri) jelas! Tapi kalau cicitnya pendiri NU, tidak!” katanya beberapa waktu lalu.
Menurut Nyai Machfudhoh, Kiai Bisri diajak bergabung Kiai Wahab ketika NU sudah berdiri. “Yang merintis itu Abah (Kiai Wahab), yang deklarasikan Kiai Hasyim (Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari). Begitu sudah dideklarasikan Kiai Hasyim, baru Kiai Bisri diajak Abah untuk bergabung,” jelasnya.
Sejak itu Kiai Bisri diikutkan berjuang di NU hingga menjadi rais aam setelah Kiai Wahab wafat. Sebelumnya Kiai Wahab menggantikan Kiai Hasyim, namun untuk posisi rais aam bukan rais akbar.
“Ketika Muktamar NU di Surabaya (1971) Abah sudah gerah (sakit). Muktamirin kemudian meminta Kiai Bisri menjadi Rais Aam namun tidak mau karena masih ada Abah. Setelah Abah meninggal seminggu usai muktamar, baru Kiai Bisri mau,” tuturnya.
Nyai Machfudhoh menambahkan, Kiai Bisri masih terhitung pamannya sendiri karena menikah dengan adik Kiai Wahab, Nyai Chodijah. “Ceritanya Kiai Bisri itu mondok di Makkah dengan Abah. Melihat kok alim dan pintar, lalu dijodohkan dengan adik Abah, namanya Chodijah,” katanya.
Meski keluarga sendiri, tapi soal kebenaran sejarah, Nyai Machfudhoh tetap harus meluruskan kalau Saifullah Yusuf bukan cicit pendiri NU karena dalam sejarahnya pendiri NU hanya Kiai Hasyim dan Kiai Wahab.
“Dalam Muktamar NU (Nyai Machfudhoh lupa Muktamar NU ke berapa) saya dengar pernah diangkat, bahwa Kiai Bisri itu termasuk penguat-lah karena diajak Abah kesana-kemari. Tapi yang jelas dalam sejarah penggeraknya, perintisnya itu Abah dan deklarasinya Kiai Hasyim,” paparnya.
Editor: Himas Puspito Putra