Guru Cabuli 2 Siswa, Polisi Geledah Bimbingan Belajar di Surabaya

Sony Hermawan, Nursyafii ยท Jumat, 13 Juli 2018 - 18:03 WIB
Guru Cabuli 2 Siswa, Polisi Geledah Bimbingan Belajar di Surabaya
Tersangka pencabulan dua siswa usai prarekonstruksi di LBB MH Mindset Surabaya, Jatim, Jumat (13/7/2018). (Foto: iNews/Sony Hermawan)

SURABAYA, iNews.id – Seorang guru sekaligus pemilik lembaga bimbingan belajar (LBB) di Kota Surabaya, Jawa Timur (Jatim), diamankan Polrestabes Surabaya karena diduga mencabuli dua siswa laki-laki. Polisi kemudian menggeledah rumah kontrakan yang digunakan tersangka sebagai tempat bimbingan belajar di Perkampungan Kendung Rejo, Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo, Jumat (13/7/2018).

Polisi melakukan penggeledahan untuk mencari barang bukti baru pencabulan yang diduga dilakukan tersangka pemilik LBB MH Mindset, Ulla Abdul Muiz. Satu per satu anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya menggeledah setiap kamar. Dalam penggeledahan itu, Satreskrim Polrestabes Surabaya mengamankan dokumen, kartu nama lembaga bimbingan belajar, stempel dan brosur.

Setelah menggeledah setiap kamar, pelaku yang diketahui homoseksual juga diminta melakukan prarekonstruksi saat mencabuli siswanya di kamar. Modus pencabulan yang dilakukan dengan berpura-pura bisa mengusir roh halus dan membersihkan aura. Tersangka kemudian membawa korban masuk ke kamar, selanjutnya menelanjangi dan mencabuli korban. Pelaku mengaku sudah mencabuli dua siswanya yang berusia 16 tahun, masing-masing berinisial NL dan NR.

“Kami sudah menggeledah TKP yang digunakan sebagai lokasi pencabulan terhadap kedua korban. Kami mencari alat bukti baru dan petunjuk-petunjuk lain serta melakukan prarekonstruksi,” kata Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni.

Sampai hari ini, Polrestabes Surabaya telah memeriksa delapan saksi terkait pencabulan dua siswa yang dilakukan tersangka Ulla Abdul Muiz. Jumlah korban kemungkinan besar bertambah mengingat siswa yang belajar di LBB itu mencapai 50 orang.

“Karena jumlah siswa yang belajar di situ mencapai 30 sampai 50 orang, jadi perlu diwaspadai jumlah korban meningkat. Kami masih mendalami kasus ini dan melakukan pendekatan karena ada siswa yang tidak berani melapor,” paparnya.

Ada dugaan, LBB yang didirikan tersangka dimanfaatkan sebagai ajang mendapatkan para korban. Akibat perbuatannya, tersangka diancam dengan pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.

Dalam penggeledahan juga diketahui LBB MH Mindset tidak memiliki izin dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Saat anggota Satreskrim Polrestabes Surabaya mengeluarkan Ulla Abdul Muiz dari mobil dan digelandang ke rumah kontrakan tempat LBB, warga tampak ramai mendatangi lokasi untuk melihat langsung wajah pelaku.

Salah satu warga, Agus Waluyo menuturkan, pelaku selama ini dikenal alim dan jarang berkomunikasi dengan warga sekitar. LBB MH Mindset sudah berdiri sejak empat tahun silam di sana. Masyarakat selama ini sudah resah dengan keberadaan LBB di kampung itu karena anak didiknya sering pulang tengah malam dan juga ada menginap. Selain itu, sound system sering dipasang meskipun sudah tengah malam.

“Kegiatan keagamaannya memang bagus, orangnya alim, tapi kenyataannya seperti itu. Orangnya agak tertutup. Banyak juga warga percaya selama ini. Wong nyatanya banyak yang bayar Rp4 juta untuk bimbingan belajar di sana,” kata warga, Agus Waluyo.


Editor : Maria Christina