Gegara Judi Online, Pemuda di Malang Ini Tega Aniaya Ibu Kandung

Saif Hajarani · Rabu, 10 Februari 2021 - 20:34:00 WIB
Gegara Judi Online, Pemuda di Malang Ini Tega Aniaya Ibu Kandung
Pelaku penganiayaan mencium kaki ibu kandungnya, Rabu (10/2021). (Foto: iNews.id/Saif Hajarani).

MALANG, iNews.id - Permainan judi membuat pemuda di Malang kalap. Laki-laki bernama Qoim (24) ini tega menganiaya kedua orang tuanya karena tidak diberi uang. Tak hanya itu, pemuda lajang ini juga mencuri motor ibunya untuk keperluan judi. 

Hasil penyelidikan polisi, diketahui Qoim kerap melakukan penganiayaan kepada ibu kandungnya, Nurhayati lantaran tak diberi uang. Puncaknya dia mengambil sepeda motor beserta BPKB milik ibunya lalu dijual untuk bermain judi online

Kala itu, sang ibu melaporkan tindak pencurian kepada Polres Malang. Namun setelah diselidiki ternyata anaknya sendiri yang mencuri. 

Tetapi, pelaku sudah terlanjur ditangkap dan ditahan polisi. Proses hukum ini diambil polisi atas tindakan pidana yang dilakukan pelaku. 

Kondisi ini rupanya membuat orang tua pelaku merasa iba. Mereka pun mendatangi Mapolres Malang untuk mencabut laporan. Mereka juga telah memaafkan atas semua perbuatan yang dilakukan anaknya. 

"Kami sudah memaafkan. Semoga anak kami sadar dan menjadi anak soleh," kata Nurhayati saat berada di Mapolres Malang, Rabu (10/2/2021). 

Mendengar ucapan sang ibu, tersangka Qoim pun tertunduk malu. Dia lantas bersujud di kaki ibunya sambil menangis. "Saya minta maaf bu," ucapnya. 

Kapolres Malang AKBP Hendri Umar mengatakan, kasus penganiayaan pelaku bisa diselesaikan secara kekaluargaan. Sebab, antara tersangka dan pelaku masih memiliki hubungan darah. Namun, hal itu tetap bergantung pada pelapor (orang tuanya). 

"Akan kami upayakan untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Kami jalankan restoratif justice terhadap kasus pelaku pencurian dalam keluarga ini. Selanjutnya mengembalikan pelaku kepada keluarga untuk dibina," ujarnya.

Diktahui, sebelumnya polisi mengancam tersangka dengan Pasal 367 ayat 2 KUHP. Pasal ini memungkinkan pelaku bebas, syaratnya ada pencabutan laporan dari pelapor.

Editor : Ihya Ulumuddin