Emil-Puti Curi Perhatian, Pengamat: Pilgub Jatim Ditentukan Cawagub
SURABAYA, iNews.id - Perbincangan mengenai debat publik perdana calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) Jawa Timur (Jatim) masih menjadi topik hangat di kalangan warga. Khususnya menyorot debat kusir antara kedua cawagub, yang paling banyak mendapat atensi dari berbagai kalangan.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, Maulina Pia Wulandari menilai, debat perdana Pilgub Jatim bintangnya adalah Cawagub Emil Elestianto Dardak dan Puti Guntur. Mereka sukses mencuri perhatian diajang debat tersebut.
"Pasangan cawagub nomor satu sudah berusaha keras untuk menyajikan data dan fakta. Sayang, teknik komunikasi dan penguasaan emosi kurang baik. Dia pendengar yang baik,” kata Pia, Rabu (11/4/2018).
Menurut dia, cawagub nomor dua kelihatan kurang memahami kondisi Jatim. Tetapi ketenangan dan penguasaan emosi dalam forum debat harus diacungi jempol. “Prediksi saya, pemenangan pilgub Jatim ini akan ditentukan oleh calon wakil gubernur,” tuturnya.
Sementara itu, menyangkut soal debat kusir antara keduanya, para panelis punya pandangan masing-masing. Bagi mereka, debat kusir yang berujung saling serang itu hal biasa dan wajar.
"Itu (debat kusir) adalah hal yang biasa dalam debat. Tidak perlu dijadikan trending topik. Sebab mana ada, yang dituduh terus mau (diam). Pasti akan mengelak," kata Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Fauzan, semalam.
Fauzan menjelaskan, dalam debat, substansi materi adalah yang utama. Karena itu, se-ekstrim apapun perdebatan, substansi materi jangan sampai hilang. Karena itu, pada sesi debat selanjutnya, perlu dibuat aturan yang lebih terkendali agar subtansi yang dipersoalkan bisa dipahami masyarakat.
"Para calon mestinya juga memahami bahwa apa yang mereka sampaikan itu sebenarnya untuk masyarakat. Jadi pertanyaan dari para calon itu hanyalah stimulasi dan jawaban itu tidak semata-mata untuk yang bertanya, tapi juga untuk masyarakat Jatim," ujarnya.
Sementara, panelis asal Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Dr Abdul Chalik melihat, debat kusir yang berujung saling serang mestinya tidak boleh terjadi. Satu sama lain seharusnya bisa memahami posisi masing-masing.
"Mestinya, pertanyaan salah satu paslon itu dijawab dengan lengkap dulu. Begitu pula pertanyaan dari paslon yang satunya," kata Chalik.
Chalik mengakui, pada sesi kelima memang ada pertanyaan menyangkut isu-isu sensitif dan dimungkinkan menjatuhkan yang lain. Tapi dalam debat, hal itu sifatnya biasa.
"Secara umum, subtansi debat sudah bisa menunjukkan sisi kedua paslon, baik itu cagub maupun cawagub. Di sisi lain, memang ada beberapa kekurangan. Tetapi sifatnya masih wajar. Apalagi saat masuk pertanyaan data-data kuantitatif, tidak semua calon bisa menjawab soal itu," ujarnya. "Dalam catatan saya pada sesi kedua dan ketiga ketika pertanyaan ke barat jawabannya justru ke timur atau sebaliknya. Saya rasa publik bisa memahami dan situasinya seperti itu," ucap Chalik.
Editor: Donald Karouw