Dokter PPDS Unair Dikabarkan Meninggal karena Bunuh Diri, Ini Pemicunya

Ihya Ulumuddin ยท Jumat, 04 September 2020 - 22:55 WIB
Dokter PPDS Unair Dikabarkan Meninggal karena Bunuh Diri, Ini Pemicunya
Ilustrasi korban meninggal. (Istimewa)

SURABAYA, iNews.id – Seorang mahasiswa residen kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dikabarkan meninggal dunia karena bunuh diri. Dokter yang sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Bedah Plastik tersebut tewas setelah menenggak cairan pembersih kamar mandi.

Belum diketahui penyebab dokter muda berinisial AB itu nekat mengahiri hidup dengan tragis. Namun, beredar kabar bahwa AB nekat bunuh diri karena tak tahan menjadi korban perundungan seniornya.

Kabar tersebut juga dibenarkan salah seorang anggota keluarganya. Menurutnya, AB bunuh diri karena dibully dokter senior.
“Kami kaget atas kejadian dr AB meninggal dunia. Sementara infonya karena bunuh diri dengan minum Vixal. Dugaan awal penyebabnya dibully seniornya,” ujar kerabat yang tak ingin disebutkan namanya, Jumat (4/9/2020).

Kabar meninggalnya AB juga sudah didengar pihak kampus. Bahkan, Rektor Unair Surabaya, Prof Moh Nasih juga tengah berkoordinasi dengan RSUD Dr Soetomo, tempat almarhum bertugas.

Nasih mengatakan, AB baru saja menjalani stase bedah di RSUD Dr Soetomo selama tiga hari. Setelah itu terdengar kabar yang bersangkutan meninggal dunia. “Iya yang bersangkutan baru tiga hari stase di RS,” ujar Nasih.

Namun, dia belum mengetahui penyebab kematian korban. Alasannya, belum ada laporan resmi dari pihak rumah sakit atas kasus tersebut. “Belum ada laporan resmi ke kami dan masih ditangani kawan RSUD dr Soetomo, sebagaimana tempat proses belajar mengajar,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya akan menerjunkan tim untuk menindaklanjuti kasus tersebut. Upaya tersebut akan dilakukan sambil menunggu laporan dari pihak rumah sakit.

“Pasti ada proses tindak lanjut. Tetapi, nampaknya mereka sedang bekerja, sehingga belum sempat melaporkan resmi tertulis detail peristiwanya gimana. Kita juga belum mendapatkan karena areanya kawan-kawan di RSUD dr Soetomo,” katanya.

Sementara itu, pihak RSUD Dr Soetomo belum bisaa dikonfirmasi atas kasus tersebut. Namun, sebelumnya Kepala Humas RSUD dr Soetomo Surabaya dr Pesta Parulian menyampaikan bahwa pihak rumah sakit mempunyai kewajiban untuk melindungi data pasien.

“Pasien punya hak dilindungi. Sedangkan rumah sakit melindungi segala macam bentuk informasi pasien. Kami tidak akan memberikan klarifikasi apa pun terkait pasien-pasien di rumah sakit. Kita menghormati pihak keluarga yang sedang berkabung,” ujarnya.


Editor : Ihya Ulumuddin