Demo di Polda Jatim, Aliansi Santri Kota Desak Polisi Tangkap Tersangka Pencabulan MSA

Ihya Ulumuddin ยท Rabu, 15 Juli 2020 - 14:23 WIB
Demo di Polda Jatim, Aliansi Santri Kota Desak Polisi Tangkap Tersangka Pencabulan MSA
Puluhan aliansi santri kota berunjuk rasa di depan Mapolda Jatim, Rabu (15/7/2020). (Foto:i News.id/Ihya' Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id – Massa Aliansi Kota Santri Lawan Kekerasan Seksual menggelar aksi unjuk rasa di depan Mapolda Jatim, Rabu (15/7/2020). Mereka menyampaikan protes, lantaran kasus dugaan pencabulan seorang kiai MSA terhadap santriwati di Jombang mandek. Tak hanya itu, mereka juga mendesak agar MSA ditangkap.

Mereka juga menduga ada permainan atas penanganan kasus tersebut. Pasalnya sejak dilaporkan pertengahan 2019 lalu, berkas perkara belum juga sampai di pengadilan. Sementara, terduga pelaku juga tidak ditangkap.

Polda Jatim harus lebih tegas dalam menangani kasus ini. Pelaku juga harus segera ditangkap. Bila tidak, maka kami menduga ada konspirasi Polda Jatim dan pelaku,” teriak salah seorang peserta aksi melalui pengeras suara.

Tiga tuntutan disampaikan peserta aksi dalam unjuk rasa ini. Pertama, mendesak Polda Jatim untuk segera melengkapi berkas perkara sesuai petunjuk jaksa hingga tanggal 20 Juli 2020 dan menyerahkan tersangka pada kejaksaan

Kedua, mempertimbangkan hasil pemantauan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan sebagai Lembaga HAM Negara yakni, mempertimbangkan posisi rentan korban sebagai perempuan serta trauma yang dialami, menerapkan ancaman hukuman maksimal, Pasal 285 KUHP, Jo Pasal 286 KUHP Jo Pasal 294 ayat (2) KUHP, serta melibatkan secara penuh orangtua, kuasa hukum, pendamping sosial Korban

Ketiga, segera menuntaskan penyidikan perkara ini secara profesional, transparan dan akuntabel.

Diketahui, MSA dilaporkan ke polisi atas dugaan pencabulan anak di bawah umur pada 29 Oktober 2019. MSA juga telah ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) bernomor B/175/XI/RES.124/2019/Satreskrim Polres Jombang tertanggal 12 November 2019.

Dalam SPDP tersebut, MSA dijerat Pasal 285 atau Pasal 294 ayat 1 dan 2 ke 2e KUHP. Informasi yang dihimpun, dugaan pencabulan itu terjadi saat korban melamar menjadi karyawan klinik rumah sehat ponpes. Praktik asusila berlangsung saat proses interview.

Berkas perkara tersebut juga sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim. Namun, berkas tersebut dikembalikan karena belum lengkap. “Berkas tersebut masih dalam tahap pra penuntutan, sehingga, masih perlu data tambahan atau masih lemah untuk diteliti,” kata Asisten Pidana Umum (Aspidum) Kejati Jatim, Herry Ahmad Pribadi.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko membenarkan hal itu. Namun, dia tidak menjelaskan detail kelengkapan berkas yang dimaksud. “Langsung ditanyakan ke Reskrimum saja ya,” katanya.


Editor : Ihya Ulumuddin