get app
inews
Aa Text
Read Next : Viral DJ Cantik di Malang Dianiaya Pacar gegara Cemburu Disawer, Pelaku Ditahan!

Cerita Asal Usul Bundaran Tugu Kota Malang yang Ikonik

Sabtu, 08 Januari 2022 - 08:56:00 WIB
Cerita Asal Usul Bundaran Tugu Kota Malang yang Ikonik
Bundaran Tugu Kota Malang, bangunan bersejarah yang ikonik hingga saat. (Foto: MPI/Avirista Midaada).

MALANG, iNews.id - Bundaran Tugu di Kota Malang ternyata menyimpan banyak cerita. Ada nilai historis dari bangunan melingkar di depan Balai Kota ini, sehingga tetap ikonik hingga saat ini. 

Dahulu, bentuk awalnya bukan berbentuk seperti saat ini. Melainkan hanya ada lapangan kosong. Bundaran ini menjadi pusat dari bangunan perkantoran dan lain-lain yang ada di sekelilingnya di zaman kependudukan Belanda

Sejarawan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang Rakai Hino Galeswangi mengatakan, pembangunan bundaran merupakan bagian dari siteplan kedua pembangunan oleh pemerintah Belanda. Saat itu pemerintah Belanda mengistilahkan pembangunan kompleks itu sebagai bouwplan dua yang dimulai pada 1922.

"Dari situ bouwplan Belanda mulai menata tata ruang Kota Malang, dia bentuk bouwplan satu, bouwplan dua, bouwplan tiga, dia (Belanda) buat bundaran, tapi belum ada tugunya kayak sekarang ini," ucap Rakai Hino. 

Dinamakan Lapangan Jan Pieterszoon Coenplein alias JP Coen, yang diambil nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Karena lapangan tersebut berbentuk bulat, oleh sebagian orang Malang dahulu dinamakan Alun-Alun Bunder. 

Saat itu, Belanda hanya membangun bundaran dengan air mancur untuk tempat rekreasi atau sekadar berkumpul para kaum ekspatriat Belanda saat itu. Apalagi kompleks sekitarnya merupakan kompleks para petinggi atau pejabat di zamannya. 

"Jadi bouwplan dua ini dibangun kawasan Tugu dan Balai Kota Malang. Awalnya di situ tempatnya para petinggi atau pejabat istilahnya, makanya kelurahannya dinamakan Tumenggungan. Ada salah satu suluk silir, ada kata Tumenggungan, di situ namanya Tumenggung, yang artinya para petinggi," tuturnya. 

Namun, saat peperangan mempertahankan kemerdekaan di tahun 1946-1949 dari Belanda pecah, bangunan-bangunan tersebut dibakar oleh para pejuang. Upaya bumihangus ini sengaja dilakukan untuk menghindari agar Kota Malang tidak dikuasai Belanda. 

Seluruh bangunan habis dibakar. Beberapa di antaranya yakni Balai Kota Malang, Gedung Sekolah HBS (AMS) yang sekarang menjadi sekolah SMA, kediaman panglima militer Belanda, Hotel Splendid, dan beberapa bangunan villa di sekitar pusat kota dibakar. 

Barulah usai rangkaian mempertahankan kemerdekaan dan berhasil mengusir Belanda di agresi militer I dan II, pemerintah Indonesia kembali perlahan-lahan membangun sejumlah bangunan itu, termasuk di antaranya Balai Kota Malang dan bundaran. 

"Ketika balai kota didirikan lagi, dengan peresmian dari Bung Karno, bundaran di depannya itu dikasih tugu itu, jadi tugu itu bukan ikon Kota Malang, tapi tugu simbol kemerdekaan Indonesia, ditaruh di depannya Balai Kota Malang," tutur Rakai Hino kembali. 

Sementara itu Pakar Sejarah Dr. Reza Hudiyanto menuturkan, bila pembangunan kembali ditandai dengan peletakan baru pertamanya oleh Gubernur Jawa Timur kala itu Doel Arnowo pada 17 Agustus 1946. Pembangunannya disaksikan langsung oleh Wali Kota Malang saat itu M. Sardjono dan diresmikan oleh Ir. Soekarno. 

"Bukan bentuknya kolam, tapi itu hanya lapangan, masih kecil itu. Dibangun lagi tahun 1946 setelah kemerdekaan dibangun. Sebelumnya republik kita nggak ada waktu dengan gitu, sibuk ngatasi inflasi kayak gitu, pengungsi, mempertahankan garis demarkasi," kata Reza Hudiyanto. 

Menurutnya, dari beberapa kota di pedalaman yang bebas dari kekuasaan Belanda, Malang-lah yang menjadi kota paling modern dari aspek infrastruktur dan paling bagus. Faktor politik pun juga menyertai pembangunan monumen ini.

"Kalau di Solo ada tugu, Jogja ada tugu, kota-kota yang tersisa kan tinggal kota-kota pedalaman. Inisiatif untuk mempertegas negara ini sudah ada. Makanya di pilih Kota Malang," katanya. 

Bentuk bangunan ini terdiri dari bambu runcing, relief dengan sisi berbentuk lima yang isinya lima gambar pulau besar, proklamasi, dan di bawahnya (penopang dasar) berupa padma. Sedangkan ciri khas dari patung yang ditemukan di berbagai macam candi adalah padma.

Dengan struktur bentuknya seperti bunga teratai sebagai dasar tugu. Bagian setelahnya, yaitu pancasila dan Indonesia bermakna kesucian karena letaknya tepat di atas padma. Dan, bambu runcing sendiri berarti simbol perlawanan yang menggambarkan keadaan serba kekurangan rakyat Indonesia saat menghadapi lawan.

Kini lambat laun, Bundaran Tugu merupakan simbol dari Malang, bahkan ada idiom belum ke Kota Malang jika belum sempat melintas atau bahkan berfoto di Bundaran Tugu. Bahkan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang terus mempercantik bangunan dan menambah infrastruktur penunjangnya. 

Editor: Ihya Ulumuddin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut