Belajar di Warkop, 500 Anak Jadi Perokok Aktif selama Pandemi Covid-19

Ihya Ulumuddin ยท Selasa, 29 September 2020 - 22:25 WIB
Belajar di Warkop, 500 Anak Jadi Perokok Aktif selama Pandemi Covid-19
Yayasan Alit bersama Kadin Jatim menggelar lokakarya untuk merumuskan kebijakan menekan perokok anak, Selasa (29/9/2020).(istimewa)

SURABAYA, iNews.id – Sebanyak 500 anak menjadi perokok aktif selama pandemi Covid-19. Temuan ini berdasarkan hasil survei Yayasan Arek Linyang (Alit) di lima kota besar yakni Surabaya, Sidoarjo, Malang Raya, Banyuwangi dan DIY Yogya (DIY).

Survei tersebut diselenggarakan Yayasan Alit bekerja sama dengan Koalisi Stop Child buse yang terdiri atas ISNU, KP2M, Komunitas Siwi dan Gusdurian Sidoarjo

Mereka mencatat, faktor penyebab banyaknya anak menjadi perokok aktif karena selama pandemi, kegiatan belajar mereka dilakukan di warung kopi (warkop).

“Saat pandemi anak-anak tidak ada sekolah tatap muka, sehingga banyak menggunakan wi-fi dan belajar daring di warung kopi. Ironisnya di sana mereka juga merokok,” kata Tim Baseline Survey Koalisi Stop Child Abuse, Lisa Febriyanto saat webinar bersama Kadin Jatim, Selasa, (29/9/2020).

Direktur Eksekutif Alit Indonesia, Yuliani Umrah mengatakan temuan survei tentang perokok anak selama pandemi ini diketahui bahwa prevalensi perokok anak di masa pandemi mengalami kenaikan.

“Kami ingin mengajak berfikir bersama dengan adanya temuan tersebut. Kalau kemudian kami hanya menemukan 500 anak yang menjadi perokok, besar kemungkinan jumlah tersebut lebih dari 1.000 atau bahkan 10.000 anak yang menjadi perokok,” ujarnya.

Wakil Ketua Umum Bidang Cukai dan Pemberdayaan Perempuan, Kadin Jatim Sulami Bahar mengatakan selama ini prevalensi anak perokok Indonesia memang terus mengalami kenaikan. Di tahun 2018, naik 9,1 persen. Karena itu, Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) bersepakat untuk menurunkannya di tahun ini menjadi 8,4 persen.

“Dari industri, kami tidak menghindari adanya kenaikan preveaensi perokok anak. Tetapi, kami tidak bisa kontrol keseluruhan rokok kalau sudah ada di market. Tetapi kami selalu memberikan imbauan kepada agen dan penjual agar tidak menjual rokok pada anak,” ujarnya.


Editor : Ihya Ulumuddin