Banjir Mengancam, Warga di Sepanjang Aliran Sungai Blitar-Tulungagung Resah

Ihya Ulumuddin ยท Selasa, 26 November 2019 - 10:54 WIB
Banjir Mengancam, Warga di Sepanjang Aliran Sungai Blitar-Tulungagung Resah
Ratusan warga menyampaikan aspirasi pada kegiatan Reses I DPRD Jatim di Desa Pucung Lor, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Jatim, Selasa (26/11/2019). (Foto: iNews.id/Ihya' Ulumuddin)

TULUNGAGUNG, iNews.id – Menjelang musim hujan, warga di sepanjang aliran sungai penghubung Kabupaten Blitar-Tulungagung, Jawa Timur (Jatim), resah. Mereka khawatir aliran sungai yang berhilir ke Sungai Brantas itu meluap dan menyebabkan banjir.

Pasalnya, sungai tersebut kini mengalami pendangkalan. Bahkan, di beberapa titik di wilayah Tulungagung, posisi sungai hampir datar.

“Nah, kalau tidak dikeruk pasti meluap. Bukan hanya permukiman, sawah-sawah warga juga bisa tenggelam,” kata Kepala Desa Pucung Lor, Kecamatan Ngantru, Tulungagung, Imam Sopingi saat kegiatan Reses I DPRD Jatim di Desa Pucung Lor, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Selasa (26/11/2019).

Imam mengatakan, setiap kali masuk musim penghujan, lahan pertanian di Desa Pucung Lor selalu kebanjiran. Imbasnya, ribuan hektare tanaman pagi gagal panen.

“Harapan kami ada upaya pengerukan agar aliran air bisa lancar menuju Sungai Brantas, tidak meluber dan menyebabkan banjir,” katan Imam.

Anggota Komisi D DPRD Jatim Guntur Wahono mengatakan, normalisasi sungai di sepanjang Blitar-Tulungagung memang cukup vital, terutama bagi warga di dua wilayah tersebut. Karena itu, pihaknya mengupayakan intervensi pemerintah provinsi untuk mengatasinya.

“Pada pembahasan APBD 2020 kemarin, alokasi untuk normalisasi sungai memang ada. Tetapi usulan dari sini (Tulungagung-Blitar) belum masuk. Maka, kami akan menyampaikan masalah ini kepada dinas terkait,” kata politikus PDI Perjuangan ini.

Kegiatan Reses I DPRD Jatim di Desa Pucung Lor, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Selasa (26/11/2019). (Foto: iNews.id/Ihya’ Ulumuddin)Caption

Tak hanya itu, Guntur juga mendesak kepada Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Provinsi untuk cek lapangan. Langkah ini penting untuk mengetahui kondisi sekaligus kebutuhan penanganan. “Ini harus menjadi perhatian serius karena sebentar lagi musim hujan datang. Jangan sampai warga jadi korban,” katanya.

Guntur mengatakan, sudah sejak tiga tahun terakhir ini warga, utamanya petani terkena dampak buruk dari aliran sungai tersebut. Akibatnya, komoditas pertanian tidak berbuah maksimal.

“Padahal, Blitar-Tulungagung ini sudah ditetapkan pemerintah sebagai lumbung pangan (padi). Kalau kondisinya seperti ini, pastinya sulit terealisasi,” katanya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungung mengimbau warga untuk waspada. Sebab, berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan deras akan terjadi sepanjang bulan Desember. Puncaknya terjadi pada Januari-Februari.

“Warga sebaiknya waspada bila hujan turun lebih dari dua jam,” kata Kepala BPBD Tulungagung Suroto.

Berdasarkan data BPBD Tulungagung, beberapa wilayah di Tulungagung rawan terjadi banjir, terutama beberapa desa di Kecamatan Bandung dan Besuki. Sementara wilayah rawan longsor terjadi di daerah pegunungan, seperti Pagerwojo dan Sendang.


Editor : Maria Christina