AA, Anak Bomber Mapolrestabes Surabaya Hanya Mau Bicara dengan Suster

Ihya' Ulumuddin ยท Rabu, 16 Mei 2018 - 14:35 WIB
AA, Anak Bomber Mapolrestabes Surabaya Hanya Mau Bicara dengan Suster
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) serta Dinas Kesehatan Provinsi Jatim menyampaikan keterangan pers di RS Bhayangkara Polda Jatim, Rabu (16/5/2018). (Foto: iNews.id/Ihya' Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id - Kondisi AA, anak pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya, Tri Murtiono, membaik. Luka fisik di bagian lengan berangsur pulih. Gadis delapan tahun ini juga sudah keluar dari ruang ICU dan dipindahkan ke ruang perawatan. 

Kendati demikian, AA masih trauma. Hingga saat ini anak yang ikut dalam aksi pengeboman ini belum mau berbicara.  Kecuali hanya dengan perawat perempuan.  "Luka fisik sudah pulih. Ada luka di lengan kiri. Tetapi sudah ditangani dengan baik," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim dr Kohar Hari seusai menjenguk anak pelaku bom bunuh diri itu di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim, Rabu (16/5/2018).

Saat ini lanjut Kohar, AA membutuhkan trauma healing untuk memulihkan psikisnya. Sebab, sampai sekarang AA masih terlihat syok. "Masih ada ketakutan. Sehingga butuh pemulihan kejiwaan. Akan ada ahli psikolog anak yang akan menangani," katanya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sutanto mengatakan, anak-anak pelaku bom bunuh diri memerlukan penanganan komperhensif. Selain pemulihan medis dan kejiwaan, mereka juga harus mendapatkan pengasuhan yang tepat. Tidak lagi mendapat doktrin terorisme. Tetapi mendapatkan pengajaran agama yang tepat.

"Rehabilitasi harus tuntas betul. Baik dari segi medis, sosial, psikologis maupun pendekatan agama. Yang terakhir ini penting. Agar anak memiliki pemahaman yang tepat tentang agama," kata Sutanto.

Untuk memastikan semua kebutuhan tersebut, orang tua yang nantinya mengasuh anak pelaku bom bunuh diri harus mendapatkan assesment. Sehingga bisa dipastikan, mereka mendapatkan pengasuhan yang tepat. Tidak lagi ada doktrin terorisme seperti sebelumnya.

Sutanto menjelaskan, sampai saat ini ada tujuh anak pelaku yang tengah dirawat di RS Bhayangkara. Masing-masing, tiga anak bomber Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, tiga anak terduga teroris di Manukan Kulon serta satu anak bomber Polrestabes Surabaya. Saat ini seluruh anak pelaku terduga teroris tersebut sudah relatif pulih dan terus didampingi tim medis dan psikolog.


Editor : Himas Puspito Putra