SURABAYA, iNews.id - Aksi dua tokoh perempuan, Tri Rismaharini dan Khofifah Indar Parawansa terhadap penanganan bantuan sosial (bansos) di Jember menyita perhatian publik, termasuk pengamat politik. Mereka pun berharap aksi kedua tokoh tersebut tulus, tidak karena kepentingan politik.
Seperti yang tengah ramai di media sosial, Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini mengamuk kepada sejumlah pejabat bank lantaran temuan 8.000 bansos untuk masyarakat miskin terdampak Covid-19 tidak tersalurkan di Jember. Risma juga menyesalkan banyaknya keterlambatan kucuran bansos kepada yang berhak.
Aksi Risma yang mengamuk dan marah-marah ini pun terekam video amatir. Pada video itu terlihat Risma mengamuk dan menunjuk dengan tanganya pada sebuah lembaga perbankan yang dinilai lambat dalam melakukan pencairan atas bantuan sosial di Jember.
Sementara, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyisir warga miskin Jember yang tidak masuk daftar penerima bansos. Momen tersebut oleh Khofifah diunggah dalam akun Instagram pribadinya @khofifah.ip.
Di akun media sosial tersebut, Khofifah mengunggah foto dirinya sedang berdialog dengan warga Jember yang berhak menerima bansos.
Pada unggahan tersebut, Khofifah menulis caption 'Menurut penjelasan ketua RW 08, di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Wates Kabupaten Jember sekitar empat puluh persen warga yang seharusnya berhak terima bansos tidak masuk daftar. Atas dasar informasi inilah saya bersapa. Hal yang sama biasa saya lakukan untuk menyisir unregistered people. Semoga bermanfaat'.
Peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC), Surokim Abdussalam berharap, aksi kedua tokoh perempuan tidak untuk mencari panggung politik untuk Pilpres 2024. Dia pun berprasangka baik bahwa, aksi kedua Risma dan Khofifah merupakan wujud nyata kepedulian pemimpin atas keadaan yang dialami warga.
"Kalau masyarakat menilai aksi Risma dan Khofifah dikaitkan dengan kepentingan politik ya sah-sah saja penilaian itu. Tapi saya mau berprasangka baik saja," katanya.
Editor : Ihya Ulumuddin
Artikel Terkait