LAMONGAN, iNews.id – Banjir yang melanda kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Jero, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kian memprihatinkan. Hingga Rabu (21/1/2026), Tinggi Muka Air (TMA) dilaporkan telah melampaui ambang batas Siaga Merah, menyebabkan ribuan rumah di lima kecamatan terendam.
Berdasarkan data rekapitulasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan, luapan sungai ini telah berdampak pada 5.188 rumah warga dan merusak 7.125 hektare lahan pertanian (tambak).
Salah satu wilayah terdampak paling parah adalah Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket. Warga menyebut banjir tahun ini jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tercatat, aktivitas warga telah lumpuh total selama lebih dari satu bulan.
Untuk mobilitas sehari-hari, warga kini bergantung sepenuhnya pada perahu. Mereka yang tidak memiliki perahu terpaksa menyusuri jalan desa yang terendam air dengan ketinggian bervariasi, mulai dari sebetis hingga selutut orang dewasa.
"Aktivitas benar-benar terganggu. Kami sudah sebulan lebih seperti ini. Mau ke mana-mana susah, jalanan desa semua tertutup air," ujar Umiyani, salah seorang warga terdampak.
Banjir tidak hanya merendam jalanan, tetapi juga merusak fasilitas umum dan pribadi. Puluhan lembaga pendidikan dilaporkan terendam hingga mengganggu proses belajar mengajar.
Selain itu, ratusan rumah di empat dusun di Desa Sidomulyo kemasukan air. Banyak perabotan kayu seperti lemari dan meja yang rusak karena air terus meninggi meski sudah ditinggikan.
Warga mulai khawatir karena tembok-tembok rumah mereka dilaporkan mulai rapuh dan mengelupas akibat terendam air terlalu lama.
Kepala Desa Sidomulyo, Dwi Bagus Saputra, menjelaskan bahwa kondisi geografis desa yang berada di daerah cekungan memperparah keadaan.
Hal ini membuat air kiriman dari berbagai sungai dengan cepat meluber dan terjebak di pemukiman warga tanpa bisa mengalir keluar.
"Kondisi desa kami memang cekungan, jadi air kiriman mudah sekali masuk dan sangat sulit untuk surut kembali," kata Dwi Bagus.
Saat ini, warga hanya bisa pasrah dan lebih banyak berdiam diri di dalam rumah sambil menunggu debit air turun. Harapan terbesar mereka adalah agar banjir segera surut sehingga aktivitas ekonomi, terutama di sektor tambak yang menjadi mata pencaharian utama, dapat kembali dimulai.
Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait