GRESIK, iNews.id - Banjir akibat meluapnya Sungai Lamong, hingga kini masih merendam ratusa hektare tanaman padi, di wilayah Kecamatan Benjeng, dan Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Akibatnya, petani terpaksa memanen tanaman padinya lebih awal, agar kerugian yang diderita tidak semakin membengkak.
Genangan banjir, akibat meluapnya Sungai Lamong, hingga kini masih menggenangi ratusan hektare, areal pertanian di wilayah Benjeng, dan Cerme, Kabupaten Gresik, Selasa (13/3/2018). Akibatnya, petani pun memanen tanaman padinya lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Hal tersebut terpaksa dilakukan agar kerugian yang ditanggung tidak semakin membengkak.
Sejumlah petani korban banjir mengatakan, jika tidak segera dipanen, maka tanaman padi akan rusak, karena batangnya membusuk, dan buahnya kosong. “Ya rusak nanti kalau tidak segera dipanen. Walaupun ini juga belum waktunya dipanen sih Pak. Harusnya panen dekat April. Tapi daripada makin rusak ya dipanen saja sekarang,” kata Limin, salah seorang petani asal Benjeng.
Menurut Limin, banjir akibat meluapnya Sungai Lamong, membuat petani harus menanggung rugi, hingga Rp3 juta per hektare. Rendaman banjir membuat buah tanaman padi menjadi rusak dan kosong. “Biasanya dapat Rp10 juta. Tapi ini diperkirakan ruginya mencapai Rp3 juta per hektare. Ya kalau dua hektar berarti Rp6 juta,” ucap Limin
Petani berharap harga jual tanaman padinya membaik, untuk menutup biaya produksi pertanian, yang terus meningkat. Namun, nasib baik ternyata belum berpihak kepada petani, karena pada musim panen, harga gabah justru merosot menjadi Rp4.000 per kilogram.
“Ya mohon lah kalau beli gabah itu jangan murah-murah. Biasanya kan Rp6.000, tapi beberapa waktu kemarin sampai Rp4.000 Pak. Kalau begitu ya pasti kami tambah rugi,” ucapnya.
Editor : Himas Puspito Putra
Artikel Terkait