Tiga buah pusaka peninggalan Bethoro Katong diarak dari pendopo Kabupaten Ponorogo menuju Kota Lama. (Foto: iNews.id/Ihya Ulumuddin)

SURABAYA, iNews.id – Masyarakat Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur (Jatim) menggelar tradisi Bedol Pusoko dalam menyambut peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram, Minggu (9/9/2018) hingga Senin dini hari. Dalam tradisi itu, tiga buah pusaka peninggalan Bethara Katong (adipati pertama Ponorogo) diarak dari pendopo kabupaten menuju makam Bathara Katong di Desa Setono, Kecamatan Jenangan atau disebut Kota Lama.

Tiga buah pusaka tersebut masing-masing Tombak Tunggul Nogo, Songsong Tunggul Wulung, dan Cinde Puspito. Ketiga pusaka dahulunya dipakai untuk mempertahankan tlatah Ponorogo dari ancaman penjajah.

Prosesi Bedol Pusoko ini berlangsung sakral. Sebelum diarak, para petinggi pemerintahan, dipimpin bupati menggelar prosesi doa bersama dan pengalungan bunga melati kepada para panglima prajurit pengawal pusaka (bregada).


Pada prosesi ini, tiga buceng (tumpeng) untuk masing-masing pusaka juga dihadirkan untuk dibacakan doa. Buceng ini merupakan symbol kekuatan. Masyarakat Ponorogo pada umumnya memaknai sesajian buceng kuat mengandung sebuah harapan meminta keselamatan kepada Allah SWT.

Prosesi arak-arakan ini juga tak kalah syakral. Diiringi lantunan kidung Kala Singgah, tiga pusaka dibawa dengan cara berjalan kaki oleh para prajurit dan abdi dalem kadipaten menuju Kota Lama. Harum bakaran dupa dan obor penerangan yang dibawa para prajurit ikut mengiringi arak-arakan pusaka tersebut.

Salah satu panitia prosesi Bedol Pusoko, Bahari mengatakan, ketiga pusaka akan diinapkan di Makam Batoro Katong sebelum dijamas (dimandikan). Para pembawa pusaka harus melakukan mlampah ratri (berjalan bisu) menuju makam.


Sebagai pengingat, pengiring akan menabuh kentongan agar mereka konsentrasi. Para pengiring yang merupakan abdi dalem membawa pisang ayu, nasi kepal yang biasa disebut buceng kuat.

"Sementara bacaan kidung Kalasinggah dilantunkan sebagai sebuah doa penolak balak agar dijauhkan dari marabahaya," kata Baharinya.

Sementara itu, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni menjelaskan, Bedol Pusoko sudah menjadi tradisi yang digelar setiap suroan atau peringatan Tahun Baru Islam. Ada tiga pusaka yang dibedol ke kota lama karena sejarahnya, Pemerintahan Ponorogo sebelumnya berada di kawasan kota lama.

Sesuai dengan catatan sejarah menyebutkan, ibu Kota Kabupaten Ponorogo di tahun 1496 berpusat di Pasar Pon (kota lama). Kemudian dipindahkan ke Pringgitan di tahun 1738. Jejak keratonnya sekarang sudah tidak terlihat di kota lama. Tapi ada artefak bangunan masjid tua dan sebuah makam.

"Itu yang menguatkan bahwa kota lama pernah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Ponorogo. Tradisi Bedol Pusoko untuk napak tilas yang menggambarkan sejarah perjalanan Ponorogo. Maka digelar dengan arak-arakan mulai malam sampai dini hari. Siang nanti dikirab lagi untuk dikembalikan tiga pusaka itu," ujar Ipong.


Editor : Donald Karouw

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network