SURABAYA, iNews.id - Nasib tragis dialami Ranggalawe di awal pemerintahan Raden Wijaya di Majapahit. Putra Arya Wiraraja yang terkenal pemberani itu gagal menduduki jabatan penting di Istana hingga akhirnya tewas dibunuh pasukan majapahit.
Nasib tragis itu tak lepas dari sikap dan ulah Ranggalawe sendiri. Penyebabnya, dia selalu bertindak provokatif hingga memancing terjadinya pemberontakan di Majapahit.
Hal itu membuat kesabaran Raden Wijaya hilang dan juga sedih. Padahal, sejatinya Raden Wijaya menyukai Ranggalawe yang pemberani dan sigap. Sayang, tindakannya kerap membuat Raden Wijaya tersinggung hingga menjadikannya tak layak menduduki kursi menteri di masa damai.
Sebagaimana dikisahkan Earl Drake pada "Gayatri Rajapatni: Perempuan Dibalik Kejayaan Majapahit", Raden Wijaya tak bisa lagi menoleransi sikap Ranggalawe. Pemberontakan bersenjata Ranggalawe pun harus segera diberangus.
Dengan berat hati, Raden Wijaya mengirim seorang panglima militer veteran untuk membasmi pemberontakan itu. Sang panglima melaksanakan tugasnya dengan sangat efektif, membunuh Ranggalawe dan menyisakan segelintir pengikutnya.
Akhir peristiwa ini membuat ayah Ranggalawe, yang tak lain sahabatnya sendiri Arya Wiraraja saat jadi Bupati Madura, marah. Setelah habis rasa perkabungannya, pendukung dan penasihat kunci pertama raja itu pun menghadap Raden Wijaya.
Mereka menuntut agar sang raja menepati janjinya dulu-yang dibuat secara terburu-buru untuk memberikan separuh kerajaan kepadanya jika Wijaya naik takhta. Namun Raden Wijaya merasa sangat keberatan harus memecah kerajaan dan membiarkannya terbuka bagi serangan pihak luar.
Namun, Raden Wijaya adalah seorang yang setia pada janjinya dan mengasihi ayah yang baru saja kehilangan anaknya itu. Karena alasan-alasan inilah, dia mengeluarkan prasasti Panggungan (1296), yang menyerahkan daerah Timur kerajaan, beserta sebagian besar urusan-urusan administrasinya ke tangan Arya Wiraraja.
Sementara selebihnya, termasuk ibu kota Majapahit, tetap di bawah kendali sang raja. Namun, prasasti tersebut juga menegaskan posisi Raden Wijaya sebagai pimpinan resmi seantero kerajaan dan menekankan kedudukan Nambi sebagai Mahapatih Majapahit, serta memuji keandalannya.
Editor : Ihya Ulumuddin
Artikel Terkait