Ilustrasi kekeringan melanda puluhan kabupaten kota di Jawa Timur. (Foto: Ist)

LAMONGAN, iNews.id – Kekeringan di Jawa Timur meluas sehingga membuat pemerintah provinsi harus mencari sumber air baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Upaya tersebut tidak selalu mudah karena kondisi sumber air di setiap wilayah berbeda, bahkan sejumlah pengeboran sumur belum berhasil menemukan sumber air.

Hingga 17 September 2026, sebanyak 24 kabupaten/kota di Jawa Timur telah menetapkan status darurat kekeringan. Dari jumlah tersebut, 22 kabupaten telah melakukan dropping air bersih untuk membantu warga yang kesulitan mendapatkan air.

Salah satu wilayah yang terdampak cukup luas yakni Kabupaten Lamongan. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 7.339 keluarga atau 26.551 jiwa terdampak kekeringan yang tersebar di 10 kecamatan.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa pun turun langsung mendistribusikan bantuan air bersih ke Dusun Bulu, Desa Mantup, Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan, Sabtu (19/9/2026).

Sebanyak 105 keluarga atau 590 jiwa di Dusun Bulu menerima bantuan air bersih berikut sarana penampungan. Pemprov Jatim menyiapkan empat truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter, tiga unit tandon, dua tandon lipat, serta 100 jeriken.

Namun, menurut Khofifah, penanganan kekeringan tidak cukup hanya mengandalkan dropping air dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pemerintah perlu mencari sumber air terdekat yang memungkinkan untuk diakses dan dialirkan ke wilayah yang membutuhkan.

“Bahwa ada yang sesungguhnya bisa kita lakukan secara lebih strategis ketika kita menemukan sumber-sumber air terdekat yang dimungkinkan untuk bisa diakses,” ujar Khofifah dikutip dari iNews Surabaya, Sabtu (19/9/2026).

Salah satu sumber air yang tengah dikaji berada sekitar lima kilometer dari Dusun Bulu. Sumber tersebut dinilai berpotensi dialirkan untuk memenuhi kebutuhan warga, tetapi pemanfaatannya masih harus mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat di sekitar lokasi.

Khofifah mengatakan ada sumber air yang secara teknis memungkinkan untuk dialirkan. Namun, rencana tersebut terkendala keberatan warga desa yang berada di sekitar sumber air.

“Ada yang potensinya lumayan, tapi kemudian desa di tempat sumber air itu keberatan sehingga tidak jadi ditarik airnya,” katanya.

Selain memanfaatkan sumber air permukaan, Pemprov Jatim juga melakukan pengeboran sumur di sejumlah lokasi yang dinilai memiliki potensi. Hanya saja, pengeboran tidak selalu membuahkan hasil.

Khofifah mencontohkan sebuah lokasi yang telah dibor hingga kedalaman 200 meter, tetapi tidak menemukan air dan justru menembus batu. Dalam proses tersebut, sebanyak 19 mata bor dilaporkan putus.

“Artinya ada kesulitan-kesulitan tertentu. Tapi juga ada yang 90 meter ketemu air,” ujarnya.

Menurut Khofifah, opsi lainnya yakni membangun sistem pengaliran air dari wilayah yang memiliki sumber menuju daerah yang mengalami kekeringan. Skema tersebut telah diterapkan atau dikaji di sejumlah wilayah dengan mempertimbangkan kondisi geografis.

“Ada juga yang dari gunung bisa ditarik seperti dari Arjuna bisa ditarik ke Singosari dan seterusnya. Jadi opsi untuk bisa mengidentifikasi sumber-sumber terdekat, termasuk di dalamnya adalah melakukan pengeboran sumur di daerah yang potensial, kita akan maksimalkan ikhtiar itu,” katanya.


Editor : Donald Karouw

BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network